Sri Mulyani : Konsumsi dan Produksi Belum Selaras

BANDUNG – Pada era ekonomi terbuka saat ini kondisi perekonomian negara lain sangat mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia. ‘’Terutama pada kondisi ekonomi global yang saat ini mengalami pemulihan yang bertahap sejak tahun 2008. Ini ditambah dengan kondisi ekonomi negara maju dan negara berkembang yang hanya tumbuh 4 persen per tahun,’’ ungkap Menteri Keuangan Republik Indonesia (RI) Sri Mulyani, S.E, M.Sc, P.HD pada acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Silaturahhim Nasional (Silatnas) Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) di Bidakara Grand Savoy Homann Hotel Rabu (14/9/2017).

sriHal ini ditambah dengan kondisi para pelaku usaha yang mengurangi aktivitas peminjaman pada perbankan.’’Ibarat manusia lesu dikarenakan kekurangan darah,’’ kata mantan direktur bank dunia ini.
Untuk mengatasi hal ini pemerintah telah membuat kebijakan stimulus fiskal yang hanya bertahan hingga tahun 2011.’’Kondisi ini dipengaruhi oleh harga komoditas sumber daya alam dan kondisi ekonomi global yang menurun,’’ ungkapnya.
Kondisi ekonomi global, jelasnya, yang saat ini terjadi adalah pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang terus berlangsung hingga geopolitik Korea Utara.’’Kebijakan Presiden AS Donald Trump tidak dapat diprediksi sehingga ini mempengaruhi kondisi perekonomian global,’’ ungkapnya.
Di negara Uni Eropa kondisi ekonomi yang belum stabil masih terjadi.’’Kebijakan fiskal dan moneter yang belum nyambung karena penyatuan mata uang ini menjadi kendala pemulihan ekonomi negara-negara Uni Eropa,’’ papar wanita yang pernah menjadi dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.
Demikian juga yang terjadi di China. Masih ada kesenjangan antara transaksi konsumsi dan investasi, belum berjalan mulus kebijakan yang semula terpusat menjadi desentralisasi.
Sri menjelaskan langkah selanjutnya yang harus diselaraskan adalah antara permintaan dan produksi.’’Saat ini boleh dikatakan daya beli masyarakat melemah sehingga pemerintah harus turut hadir mengatasi hal ini yakni dengan kebijakan yang bertujuan memotong kemiskinan generasi,’’ jelasnya.
Menteri Keuangan pada era SBY dan Jokowi ini menjelaskan beberapa faktor penghalang investasi diantaranya adalah ide yang tidak terealisasikan, keterbatasan akses permodalan, dan kemudahan serta kepastian perizinan investasi.’’Hal ini diatasi dengan kucuran dana yang mencapai Rp100 triliun meningkat seratus kali lipat dibandingkan pada era SBY yang mencapai Rp 1 triliun,’’ ungkapnya.
Perubahan pola konsumsi juga harus diperhatikan pelaku usaha.‘’Saat ini terjadi pergeseran dalam pola konsumsi dan suply seiring dengan perubahan teknologi,’’ katanya.
Pada masa lampau pola konsumsi dan suply berada pada kelompok sumber daya alam. Namun, pada era baby boomer telah bergeser pada kebutuhan pada sektor teknologi dan jasa.
Untuk sektor jasa, jelasnya, pemerintah telah membangung pelabuhan, bandar udara dan jalan raya. ‘’Sedangkan pada sektor jasa telah bergeser pada sektor teknologi yakni yang berkaitan dengan informasi teknologi (IT). Dan saat ini manusia terkaya di dunia bergerak pada bidang IT seperti Bill Gates pemiliki Microsoft dan Mark Zuckerberg pemilik Facebook,’’ paparnya.
Dalam hal ini diperlukan institusi yang bisa menghadapi perubahan.’’Sektor industri jasa asuransi, pendidikan, kesehatan dan penyedia serta pengelola data diantaranya bidang artificial intelligence menjadi gerbong depan perekonomian,’’ tutupnya. (ars)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: