Tudingan Teroris Itu Tanpa Klarifikasi

DENSUS 88 menembak dan membekuk orang yang diduga pelaku perampokan Bank CIMB Niaga Medan pada tanggal 18 Agustus 2010. Kapolri juga dengan tegas menyatakan pelaku perampokan tersebut terkait dengan teroris. Lantas mengapa rata-rata Densus menembak mati pelaku tanpa adanya penyelidikan terlebih dahulu?

ULU TIRAM :Sekolah tempat Nurdin M Toop mengajar

ULU TIRAM :Sekolah tempat Nurdin M Toop mengajar

Pagi itu, kami mengendari mobil menuju Ulu Tiram-Johor. Tujuan kami adalah menjenguk kerabat di sana. Ulu Tiram, adalah sebuah kampung yang pernah cukup menyita perhatian dunia. Di kampung itu lah tempat orang yang paling dicari yang diduga teroris, yaitu Noordin M Top.
Masuk ke kampung itu melalui jalan sempit beraspal namun hanya dapat dilalui sebuah kendaraan roda empat saja. Kanan-kirinya perkebunan sawit.
Setelah berjumpa dengan kerabat, kami mampir di rumah bercat kuning yang tampak sepi.Bangunan itu berpagar kawat tetapi tak berpintu, itulah rumah mertua Noordin M Top.
Disamping kanan rumah yang berukuran sekitar 6 meter kali 12 meter itu ada jalan ke belakang tidak beraspal, dan persis di samping nya berdiri bangunan yang sudah tak di pakai lagi, itulah bangunan madrasah Lukmanul Hakim, madarasah tempat Noordin M Top pernah mengajar.
Bangunan madrasah yang cukup sederhana itu bertingkat dua, ruang nya sekitar 6 x 6 meter terdiri dari 6 kelas terlihat kusam, terus ke belakang ada bangunan yang sudah tak beratap lagi, konon kabarnya bangunan yang berbentuk L itu di bongkar untuk membuktikan kalau madarasah itu sudah tak beroperasi lagi.
Karena sudah pernah silaturahim sebelumnya maka kami telepon sang pemilik rumah setelah berjumpa dengan anaknya. Pemilik rumah, pak Rusdi biasa dipangil senang mendengar kedatangan kami. Bahkan, kami sempat dititipin buah tangan berupa buah-buahan.
Kami pun berbual dengan pak Rusdi.Dari perbincangan dengan pak Rusdi dan anak-anaknya tak terlintas dalam pikiran kami bahwa Noordin M Top adalah teroris. Sebab dengan keramahan, prilaku dan pendidikan yang dimiliki tak terkesan bahwa Noordin M Top adalah pembuat bom yang ditudingkan selama ini. Pertanyaanya, apa benar seorang guru ngaji dapat merakit bom?
Kembali pada penangkapan Densus 88. Pada Ahad (19/9/2010) lalu, Tim Densus 88 membekuk 4 orang yang diduga “teroris” di desa Tanjung Bunga, Tanjung Balai Asahan, yang berjarak sekitar 317 Km dari Medan.
Dari empat orang yang digerebek, dua diantaranya tewas di tempat dan dua lainnya terluka.  Korban tewas bernama Deden (25) dan Deni (27) sedang yang terluka adalah Khairul Ghazali (35) dan Alex (27).
Pernyataan polisi tentang terjadinya baku tembak saat penangkapan di rumah kontrakan Khairul Ghazali di Kota Tanjung Balai, dibantah pihak keluarga. Penelusuran yang dilakukan keluarga menunjukkan, tidak ada yang mendengar terjadinya baku tembak di rumah tersebut.
Adil Akhyar, adik kandung Ghazali, menuding penangkapan itu sarat rekayasa. Termasuk soal senjata yang ditemukan Densus 88 di rumah Ghazali saat penangkapan di Bunga Tanjung, Kecamatan Datuk Bandar Timur, Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara (Sumut), sekitar 200 kilometer dari Medan.
“Kami menilai Kapolri sudah menebarkan kebohongan besar. Tidak ada kontak senjata di sana, dan tidak ada pagar manusia. Namanya di rumah, ya ada anak dan istri, mereka bukan pagar manusia,” kata Adil kepada wartawan di Medan, Selasa (21/9/2010).
Pihak keluarga meyakini, senjata-senjata jenis AK-47, pistol jenis FN serta sangkur yang dinyatakan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD) ditemukan di rumah Ghazali, bisa saja memang dibawa polisi dan diletakkan di sana. Kemudian dinyatakan sebagai barang bukti.
Pasalnya, kata dia, Ghazali sangat jauh dari urusan senjata, dia hanya bekerja sebagai tabib, dan menulis. Ghazali, yang pernah tinggal di Malaysia selama hampir 10 tahun sebelum ke pindah ke Kota Tanjung Balai, punya pengalaman sebagai jurnalis untuk sebuah terbitan di sana.
Selain itu, keluarga juga mempertanyakan di mana anak dan istri Ghazali saat ini. Densus membawa serta istri Ghazali Cicih (35), dan empat orang anaknya. Termasuk salah seorang anak yang masih berusia sekitar satu bulan.
“Kami tidak mengetahui di mana Ghazali, dan di mana anak istrinya yang dibawa saat penangkapan itu. Kami sangat khawatir,” tukas Adil.
Berkenaan dengan dua orang yang ditembak mati di rumah Ghazali, Adil menyatakan keduanya adalah tamu yang datang saat berlebaran. Sebagai tabib, Ghazali banyak berkenalan dengan orang, dan sebagian di antaranya datang bersilaturrahmi.
Beberapa hari setelah penggerebekan, beredar foto-foto penggerebekan tersebut di internet.  Selain beredarnya foto, mulai terkuak beberapa kejanggalan dalam aksi brutal Densus 88 ini.  Salah satu korban tewas yang ditembak oleh Tim Densus 88, Yuki Wantoro (20), dikatakan oleh pihak keluarga bukanlah pelaku perampokan Bank CIMB yang dikait-kaitkan dengan “terorisme”.  Kakak Yuki Wantoro berujar bahwa adiknya berada di rumah saat aksi perampokan terjadi, dan Yuki mengetahui berita perampokan tersebut melalui televisi.
“Waktu terjadi perampokan dia (Yuki) dirumah,” kata Yudi Mansur (34), kaka Yuki Wantoro. Pertanyaannya, mengapa mereka langsung dibunuh tanpa dilumpuhkan atau diinterogasi terlebih dahulu? (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: