Pemerintah Boikot Hotel yang Tidak Bersertifikat Halal

SETIAP konsumen berhak mendapatkan barang dan jasa yang sesuai. Untuk makanan, yang sesuai dengan umat Islam adalah yang halal dan thoyiban. Namun, jangan berharap hal ini mudah didapatkan di negeri Sabah dan Sarawak Malaysia. Terutama di terminal kota-kota yang mayoritas penduduknya China non muslim.

Tempat makan atau food court di Sarawak

Tempat makan atau food court di Sarawak

Kedai atau tempat makan di Kinabalu – Sabah mayoritas dikelola oleh non muslim China. Meskipun dalam bulan ramadhan, kedai makan buka seperti biasa tidak menggunakan tirai seperti halnya di Indonesia. Sebab, hokum di Malaysia berbeda, yakni jika ada orang Islam yang berbuka di siang hari dan duduk di kedai makan maka dapat dikenakan denda RM 500 atau setara Rp1.350.000 dengan kurs Rp2.700.
Kedai makan muslim ada. Namun, di siang hari tidak berjualan, bahkan tutup selama bulan Ramadhan. Hal ini menambah kesulitan umat Islam untuk mencari makanan halal.
Kondisi yang sama juga dijumpai di wilayah Sarawak. Terutama di terminal bus mulai dari Miri, Bintulu, Sibu, Sarikei dan Kuching. Di masing-masing terminal tidak ada kedai makan halal. Kesemuannya masakan yang dimasak etnis China. Sengsaranya lagi jika melakukan perjalanan dengan menggunakan bus.
Setiap pemberhentian makan. Maka sopir bus yang sebelumnya diarahkan perusahaan oto bus memberhentikan penumpang di kedai China. Di tempat pemberhentian makan di Batu Niah Food Court penjualnya muslim tapi tidak terpampang logo halal. Cukup bacaan bismillah yang terpampang di steling.
Kondisi ini berbeda dengan penjelasan Jabatan Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Negeri Sabah. Menurut setia usaha Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Negeri Sabah, pengelola usaha respon untuk mengurus label halal. Dan rata-rata mereka adalah non muslim.
Sedangkan keterangan dari Jabatan Kemajuan Islam Malaysia atau JAKIM, menyatakan pelaksanaaan logo halal diterapkan dengan adanya boikot di hotel-hotel dengan tidak akan mengadakan acara di hotel yang belum bersertifikat halal.
Dengan gerakan ini maka hotel-hotel berlomba-lomba untuk mengajukan sertifikasi halal. Namun, cara ini tidak memberikan pengaruh di kedai-kedai makan di jalan atau terminal.  Di Miri misalnya, di samping stasiun bus ada pasar. Penjual makanan yang muslim hanya ada satu, itu pun di samping penjual daging babi.
Ketersediaan, tempat makan ini juga harus diiringi dengan ketersediaan tempat sholat. Mayoritas terminal bus tidak dilengkapi dengan fasilitas tempat sholat. Baik itu di Miri maupun Sibu. Alasannya, terminal itu dibangun oleh swasta.  Jadi jika kita melakukan perjalanan darat di Sarawak maka siap-siap untuk membawa bekal makanan halal. (***)

Satu Tanggapan

  1. Wah sangat setuju untuk menghentikan maksiat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: