Pluralisme dan Kristenisasi di Hinterland

PLURALISME menurut MUI adalah “suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga”. Kalau pengertian pluralisme agama semacam itu, maka paham tersebut difatwakan MUI sebagai bertentangan dengan ajaran agama Islam

Pak Atan (kiri), kaum suku laut yang menjadi nasrani

Pak Atan (kiri), kaum suku laut yang menjadi nasrani

Kemunculan ide pluralisme didasarkan pada sebuah keinginan untuk melenyapkan ‘klaim keberanan’ (truth claim) yang dianggap menjadi pemicu munculnya sikap ekstrem, radikal, perang atas nama agama, konflik horisontal, serta penindasan atas nama agama. Menurut kaum pluralis, konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama baru sirna jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya yang paling benar.
Inilah hakikat ide pluralisme agama yang saat ini dipropagandakan di Dunia Islam melalui berbagai cara dan media. Dari ide ini kemudian muncul gagasan lain yang menjadi ikutannya seperti dialog lintas agama, doa bersama dan lain sebagainya. Pada ranah politik, ide pluralisme didukung oleh kebijakan Pemerintah yang harus mengacu pada HAM dan asas demokrasi. Negara memberikan jaminan sepenuhnya kepada setiap warga negara untuk beragama, pindah agama (murtad), bahkan mendirikan agama baru.
Berdasarkan pengertian tersebut bahaya pluralisme bersifat lembut dan tidak sefrontal pemurtadan. Jika pemurtadan mengajak umat Islam masuk ke agama lain secara terang-terangan, maka  pluralisme menganggap bahwa tidak ada agama yang paling benar, termasuk Islam.
Pemikiran inilah yang digunakan kaum misionaris untuk menjalankan dakwanya di daerah hinterland khususnya suku laut di seputaran Pulau Batam. Bahkan, kaum misionaris mengaburkan sejarah suku laut yang menyatakan bahwa suku laut tidak memiliki agama atau tamaddun. ‘’Biasanya mereka mengatakan untuk apa beragama Islam, toh tidak dapat menjalankan sholat karena harus pergi melaut,’’ ujar salah satu orang suku laut yang dijumpai Buletin Jumat di Tanjunggundap.
Dengan pengaburan sejarah itulah kaum misionaris menjalankan misinya untuk mengkristensisasi suku laut. Dan ini terjadi di daerah Pulau Gara, di Teluk Nipah, di Pulau Kubung.
Sejarah Suku Laut

Kesultanan Johor

Kesultanan Johor

Suku Laut yang berada di Kepulauan Batam sungguh erat kaitan nya dengan Kerajaan Johor sekarang Pada tahun 1699 Sultan Mahmud Syah, keturunan terakhir wangsa Malaka-Johor, terbunuh. Yang lebih terkenal dengan sebutan Sultan Mahmud Mangkat Di Julang. Mulai saat itulah kisah suku Laut tercerai berai hingga sekarang di mulai.
Karena Orang Laut menolak mengakui wangsa Bendahara yang naik tahta sebagai sultan Johor yang baru, karena keluarga Bendahara dicurigai terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ketika pada tahun 1718 Raja Kecil seorang petualang Minangkabau mengklaim hak atas tahta Johor, Orang Laut memberi dukungannya. Namun dengan dukungan prajurit-prajurit Bugis  Sultan Sulaiman Syah dari wangsa Bendahara berhasil merebut kembali tahta Johor. Dengan bantuan orang-orang Laut (orang suku Bentan dan orang Suku Bulang) membantu Raja Kecil mendirikan Kesultanan Siak setelah terusir dari Johor.
Pada abad ke-18 peranan Orang Laut sebagai penjaga Selat Malaka  untuk Kesultanan Johor-Riau pelan-pelan digantikan oleh suku Bugis. Bahasa Orang Laut memiliki kemiripan dengan Bahasa Melayu  dan digolongkan sebagai Bahasa Melayu Lokal. Saat ini mereka umumnya bekerja sebagai nelayan. Seperti suku Bajau Orang Laut terkadang dijuluki sebagai “kelana laut”, karena mereka hidup berpindah-pindah di atas perahu.
Kini pelan pelan pula sejak adanya Otorita Batam, kehidupan mereka di perairan kepulauan Batam terusik, karena memang dianggap Nomaden sebagian dari mereka “didaratkan” dibuatkan  rumah , seperti contoh di Pulau Gara, di Teluk Nipah, di Pulau Kubung.
Dan di pulau-pulau itulah kristenisasi dilaksanakan. Bahkan di beberapa pulau seperti di Pulau Kubung, gereja berdiri dengan kokohnya. Di beberapa pulau lain pun juga demikian. Bahkan, di Pulau Lingke dua pertiga kaum suku laut pun telah memeluk agama kristen. Lantas apa yang dapat kita lakukan mengatasi hal ini?
Hambatan Dakwah Islam
Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PP. Muhammadiyah Fakhrurrozi Reno Sutan mengatakan paham pluralisme ini merupakan hambatan dakwah Islam di daerah terpencil. “Kita tidak setuju dengan pluralisme agama yang dibangun dengan pondasi liberalisme,” ujarnya
Fakhrurrozi mengatakan, rata-rata ancaman pluralisme yang dihadapi dai berada di daerah yang jumlah muslimnya sedikit. Daerah tersebut misalnya, Bali, NTT, Papua, dan Sumatera Utara.
Ancaman pluralisme tidak saja berasal dari perorangan, tapi juga pemerintah. Pemerintah sengaja menggunakan kekuatan politis. Hal itu sangat mungkin bisa dilakukan karena jumlah umat Islam yang sedikit. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: