Siswa Tak Dapat Pengajaran Sesuai Agama yang Dianut

MATAHARI baru saja bangun dari peraduannya. Sinarnya menandakan aktivitas haruslah dimulai. Seperti aktivitas sekolah lainnya, anak sekolah Dasar Negeri di Pulau Kubung berkumpul untuk membaca bacaan Pancasila. Jumlahnya pun tak banyak hanya 12 siswa dari kelas 1 hingga 4. Dan siswa muslim hanyalah minoritas yakni empat siswa saja.

Siswa SMP di pulau Sembur

Siswa SMP di pulau Sembur

Meskipun hanya empat siswa. Mereka tidak memperoleh pendidikan agama selayaknya. Apalagi, guru kelas mereka yakni ibu Sinaga adalah seorang nasrani. ”Ya selama ini saya berusaha untuk dapat mengajar pelajaran agama mereka. Dan baru kali ini berhasil dan mengajar pelajaran arab melayu juga,” ujar da’i pulau Kubung Ainur Rofiq.
Guru yang ditempatkan di pulau memang rata-rata adalah non muslim. Seperti halnya di pulau
Bertam, pulau Teluk Sunti dan beberapa pulau lainnya. Anehnya,guru-guru tersebut tidak mau
dipindahtugaskan.
”Ini satu dilema, mereka tidak mau pindah dan kita juga tidak dapat berbuat banyak karena untuk mencari penggantinya tidaklah mudah.” demikian pengakuan Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam Drs.H Muslim Bidin, MM.
Kondisi serupa juga terjadi di pulau Rempang dan Galang. Apalagi di salah satu pulau tersebut terdapat sekolah nasrani yang muridnya sebagian besar adalah muslim.”Saya orang Jawa dan saya sekolah di gereja,” kata salah satu murid yang tinggal di pulau Rempang.
Begitu gencarnya penyebaran agama ini tentunya harus diimbangi dengan upaya dan kerja keras umat Islam. Permasalahan juga bertambah dengan kurangnya dai yang tinggal di daerah tersebut.
”Kurangya bukan hanya dari segu kuantitas melainkan juga segi keikhlasannya. Karena jika ”gaji” dari Dana Sosial Nurul Islam (DSNI) terputus maka berhenti juga lah mereka berdakwah,” ujar Azman.
Belum lagi permasalahan da’i yang telah ditempatkan diterima menjadi guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemerintah Kota (Pemko) Batam.”Maka pembinaan warga di pulau tersebut langsung terhenti karena surat keputusan (SK) menyatakan mereka bertugas di Batam,” papar Azman.
Permasalahan lain yang timbul adalah kurang mobilitasnya para dai. Padahala mereka tidak hanya bisa melakukan dakwah di satu tempat. Melainkan juga di pulau seberang lainnya. (***)

Satu Tanggapan

  1. informasi yang ironis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: