Sekolah Itu Difungsikan untuk Gereja

OMBAK kuat tidak menghalangi kami untuk mengunjungi pulau Teluk Nipah. Untuk mencapai pulau ini harus melalui jembatan enam pulau Galang Baru lalu menyebrang dengan menggunakan pompong sekitar empat puluh lima menit. Pulau Nipah dihuni oleh penduduk asli suku laut yang memang perlu pembinaan soal agama Islam.

Suku laut di Pulau Nipah

Kapal pompong yang kami tumpangi pun merapat di pelatar yang bergoyang. Untuk menaikinya perlu hati-hati dan memilih kayu yang kuat untuk dilewati. Seperti pulau lainnya di sekitar pulau Batam, pulau Nipah pernah mendapat perhatian dari pemerintah setempat.
‘’Bangunan ini dulunya adalah sekolah yang dibangun ibu Sri Soedarsono. Dan saat ini telah berfungsi menjadi gereja,’’ tutur pak Koeng, salah satu penduduk di pulau Nipah.
Pak Koeng adalah penduduk asli yang telah masuk Katolik sejak dua puluh tahun yang lalu. Dia adalah asisten pendeta. Namun demikian, ia pun tetap mendengarkan tentang sejarah suku laut yang beragama Islam (baca Seandainya Umat Islam Datang Lebih Dulu).
Selain suku laut adalah pemeluk agama Islam. Kami pun memberi tahu tentang ketauhidan. Sebab ajaran agama itu tidak akan berubah sejak nabi Adam diciptakan. Apalagi tentang ketuhanan. ‘’Sejak nabi Adam tuhan itu satu yaitu Allah dan Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakkan.’’ Begitu nasihat yang diberikan kepada kaum suku laut itu.
Bukan hanya itu, kami pun memberitahukan tentang mukzizat Al Quran yang berbeda dengan kitab Injil. ‘’Berjuta-juta orang hafal Al Quran dan sebagian mengerti artinya. Namun, tak satu pun manusia di dunia ini yang hafal injil. Jangankan satu kitab, sepuluh halaman pun susah cari orang yang hafal.’’
Waktu Ashar pun masuk. Kami pun melaksanakan sholat di rumah penduduk yang memeluk agama Islam. Meskipun sudah lama tidak melaksanakan sholat secara rutin, penduduk asli pun masih menyimpan sajadah dan songkok. Dan pak Koeng pun melihat rombongan yang berjumlah empat orang beserta satu orang suku laut melaksanakan sholat.
Setelah sholat, pak Koeng pun berkomentar. ‘’Susah menjadi orang Islam harus menjalankan sholat lima waktu dan banyak larangannya seperti larangan makan babi.’’ ‘’Ajaran Islam tidaklah susah,’’ jawab kami. ‘’Jika kita mandi sehari semalam lima kali bagaimana dengan tubuh kita?’’ tanyaku. ‘’Badan akan bersih,’’ jawab Pak Koeng. ‘’Demikianlah jika kita melaksanakan sholat,’’ jawabku.
Soal banyaknya larangan dan perintah agama. Ajaran agama itu berjenjang. ‘’Paling utama adalah soal ketauhidan yang mengaku bahwa Allah adalah satu dan nabi Muhammad adalah utusan Allah dan itu adalah kunci surga.’’
Setelah matahari mulai turun ke peraduannya. Kami pun mohon diri untuk pamit dan semoga kunjungan yang singkat ini dapat memperpanjang tali silaturahim dan mengingatkan ajaran agama Islam pada masyarakat suku laut. (***)

Satu Tanggapan

  1. mudah2an mereka kembali ke jalan yg diridhai Alloh SWT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: