Seandainya Umat Islam Datang Lebih Dulu

KRISTENISASI. Banyak umat Islam yang gerah dan merinding jika mendengar dan mengetahui hal ini telah terjadi. Namun, apa yang bisa dan mesti perbuat untuk mengatasi hal ini? ”Saya sudah dibaptis 20 tahun yang lalu,” ujar pak Koeng, warga pulau Teluk Nipah.

Gereja di pulau Todak

Gereja di pulau Todak

Teluk Nipah merupakan pulau yang dihuni warga suku laut. Suku laut merupakan suku bangsa yang menghuni Kepulauan Riau, Indonesia. Secara lebih luas istilah Orang Laut mencakup “berbagai suku dan kelompok yang bermukim di pulau-pulau dan muara sungai di Kepulauan Riau-Lingga, Pulau Tujuh, Kepulauan Batam, dan pesisir dan pulau-pulau di lepas pantai Sumatera Timur dan Semenanjung Malaya bagian selatan.
Pada 1699 Sultan Mahmud Syah, keturunan terakhir wangsa Malaka-Johor, terbunuh. Orang Laut menolak mengakui wangsa Bendahara yang naik tahta sebagai sultan Johor yang baru, karena keluarga Bendahara dicurigai terlibat dalam pembunuhan tersebut. Ketika pada 1718 Raja Kecil, seorang petualang Minangkabau mengklaim hak atas tahta Johor, Orang Laut memberi dukungannya. Namun dengan dukungan prajurit-prajurit Bugis Sultan Sulaiman Syah dari wangsa Bendahara berhasil merebut kembali tahta Johor. Dengan bantuan orang-orang Laut (orang suku Bentan dan orang Suku Bulang) membantu Raja Kecil mendirikan Kesultanan Siak, setelah terusir dari Johor.
Jadi, suku laut merupakan orang Islam yang terusir dari kampungnya. Tanpa adanya pembinaan secara terus menerus maka ilmu dan prakti agama suku laut mulai memudar. Dan terjadilah kristenisasi ini dengan mengatakan bahwa orang suku laut tidak beragama.
Kunjungan kaum nasrani pun lebih sering jika dibandingkan dengan kunjungan umat Islam. Padahal agama Islam memerintahkan umatnya untuk menyambung tali silaturahim. Dengan menyambung tali silaturahim maka umur kita akan menjadi lebih panjang.
Peranan Dai
Untuk membina agama suku laut tentunya menggantungkan peran dari pada dai. Pengertian da’i secara sederhana adalah seseorang yang mengajak terhadap ajaran Allah. Maka, da’i ini bukan seseorang yang pandai dalam retorika dakwah. Ia juga bukan seorang ustadz apalagi ulama kondang. Dan, ia juga bukan jebolan pesantren.
”Dai yang bertugas di pulau ini mulai kehilangan ilmu ikhlas. Sebab da’i ini merupakan kiriman dari Dana Sosian Nurul Islam (DSNI) Mukakuning dan mendapatkan ”gaji” tiap bulan dari DSNI. Jika dai ini telah terputus masa kontraknya maka mereka tidak lagi duduk di pulau itu untuk berdakwah,” ujar Azman, guru SD di daerah Galang.
Memang, dai ini menjadi peran yang sangat vital. Dan ini harus menjadi tugas bersama agar pembinaan suku laut dapat dilaksanakan dengan baik. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: