Berjuang di Tengah Minoritas Muslim

Pancung itu merapat di pelantar kayu. Angin yang cukup kencang membuat pelantar  pun ikut bergoyang. Kadang terasa ngeri dan was-was. Namun rasa was-was itu berubah menjadi kehangatan ketika senyuman  wajah-wajah berkerudung menyambutnya penuh kehangatan.

Berdakwah di Hinterland

Berdakwah di Hinterland

Senin (10/1), sekitar 40 orang yang berasal dari Thailand, Trenggano dan Johor tiba di Pulau Kubung, Nongsa Batam. Pulau yang ditempuh sekitar 30 menit dari Pelabuhan Telaga Punggur ini, adalah sebuah pulau kecil dari ratusan pulau yang ada di pulau Batam, yang dihuni hanya 7 KK warga muslim. Selebihnya non muslim. Rombongan tersebut dijemput di pelantar kayu oleh masyarakat muslim di sana.
Hidup dalam minoritas di tengah mayoritas menjadi tantangan tersendiri. Hidup seperti sendirian. Semua masalah seperti ditanggung sendiri, sementara kemampuan memiliki keterbatasan. Pendidikan yang lemah,akses yang kurang dan fasilitas lain yang terbatas.  Karena itulah, Imbalo Imam Sakti, aktivis Muhammadiyah Batam memprakarsai mengunjungi masyarakat  muslim pulau tersebut  dengan mengajak kolega dari  Asosiasi Muhammadiyah Internasional  dari Thailand, Trenggano dan  Johor. Ini agar terjalin hubungan yang akrab dengan mereka.  ‘’ Ya, hanya melihat hidung,’’ ujar Imbalo mengibaratkan kedatangannya ke masyarakat tersebut.
Menariknya, kegiatan tersebut dikemas seperti wisata dakwah. Rombongan yang berjumlah 40 orang, 9 orang diantaranya calon pelajar  di Ma’had Said Bin Zaid Batam ini menggalang kebersamaan dengan menginap satu malam dan mendirikan tenda-tenda di pulau tersebut. Acara tidak saja diisi dengan silaturahmi dengan warga muslim di sana, juga hiburan dengan menayangkan film Laskar Pelangi bagi warga setempat. Suasanapun terasa akrab baik dengan sesame rombongan maupun dengan masyarakat muslim di sana. Ibarat seperti saudara yang lama tak berjumpa.

Wisata dakwah di Pulau Air Desa

Wisata dakwah di Pulau Air Desa

Menjadi masyarakat minoritas kadang membutuhkan pengorbanan.  Apalagi berada di pulau terpencil dengan pendidikan seadanya.  Untuk memenuhi kebutuhan spiritual  saja tidaklah mudah.  Contohnya untuk mendapatkan fasilitas  tempat ibadah (masjid ) bagi warga muslim perlu perjuangan yang tinggi.  ‘’ Kita dilarang mendirikan masjid di sini,’’ kata Ainur Raffiq, ustad di Pulau Kubung.
Padahal masjid bagi ummat Islam adalah tempat berbagai kegiatan, mulai dari pendidikan hingga bermusyawarah.  Beruntunglah, dengan perjuangan yang ada antara masyarakat muslim di Kubung, fasilitator dan donatur, saat ini telah berdiri mushala yang terbuat dari kayu. ‘’ Pendidikan agama mutlak diberikan sejak masih anak-anak. Keyakinan agama akan kuat jika ditanamkan sejak dini,’’ujar Imbalo tentang semangatnya mendirikan mushala di sana.
Namun  memiliki mushala saja tidaklah cukup. Butuh pembinaan yang lain. Apalagi sebagian besar mereka baru mengenal Islam.

Pulau Kubung

Pulau Kubung

Ainur Raffiq menyebut belakangan ini warga muslim di Pulau Kubung kerap mendapat kunjungan dari umat muslim di Batam yang ingin bersilaturahim. Namun kerap terjadi salah pengertian dengan tokoh masyarakat di sana, akibatnya seringkali dirinyalah yang menjadi korban ‘’ peradilan’’. ‘’ Kalau orang-orang yang berkung sudah pergi,  yang di sinilah yang kena getahnya,’’ ungkap Ainur Raffiq, asal Jawa Timur ini.
Semalam menginap di Pulau Kubung, rombongan tersebut juga mengunjungi  Pulau Air Mas, pulau yang juga dihuni masyarakat minoritas muslim. Di sana pun rombongan bersilturahmi dengan minoritas muslim, yang hidup ala kadarnya.  Warga meminta agar anak-anaknya mendapat bantuan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.  ‘’ Kami meminta bantuan untuk pendidikan anak,’’ kata Ibu Siti, slah seorang warga di sana.
Kunjungan diakhiri ke rumah Mak Dayang, yang masih berada di pulau tersebut.  Dia meminta bantuan agar di tempatnya di dirikan mushala untuk belajar anak-anak setempat dan tempat salatnya, ‘’ Kami meminta bantuan untuk didirikan masjid di sini,’’ katanya. Menurutnya, lahannya  sudah di sediakan, tetapi saat itu lahan tersebut tertutupi pohon yang runtuh akibat terpaan angin putting beliung.’’ Pintanya penuh harap.
Salah seorang rombongan dari Trenggano, Ummy mengaku terharu dengan kunjungannya tersebut. ‘’ Mereka minoritas, segala sesuatunya mereka berkorban,’’ ujar Ummy dengan suara pelan dan mata berkaca-kaca.(***)

Satu Tanggapan

  1. TERIMAKASIH TAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: