Tarif Listrik Naik, Batam Tanpa Mall

KENAIKAN tarif listrik di Batam sebesar 54 persen untuk mall dan pertokoan pada sesuai dengan peraturan Menteri ESDM Nomor 33 Tahun 2008 mengancam usaha perdagangan di Batam. Demikian juga untuk pengelola mall. Peraturan Menteri ESDM Nomor 33 Tahun 2008 Pasal 3 ayat (1), PTLB dapat dilakukan secara berkala paling cepat 3 bulan sekali berdasarkan situasi makro ekonomi. Adapun indikator-indikator makro ekonomi tersebut adalah nilai tukar US dolar terhadap rupiah, harga energi primer, dan tingkat inflasi. Indikator-indikator tersebut mempengaruhi Biaya Pokok Penyediaan (BPP) tenaga listrik. PTLB dapat berupa kenaikan atau penurunan, maksimum sebesar 5 persen (0.05 atau 5 per seratus). PTLB untuk Triwulan I Tahun 2009 didasarkan pada perubahan indikator-indikator makro ekonomi tiga bulan sebelumnya, di mana kurs rata-rata US Dolar melonjak dari Rp. 9.100 menjadi Rp. 10.407. Bagi PLNB, kenaikan kurs tersebut sangat berdampak pada biaya produksi, mengingat 92 persen kebutuhan energi primernya berasal dari gas, yang dibeli dalam mata uang US Dolar. ”Nagoya Hill yang terbiasa membayar listrik Rp400 juta per bulan akan membayar Rp800 juta per bulan demikian untuk pengusaha mall yang lain,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Ahmad Hijazi di kantor Disperindag Batam Center Kamis (26/2/09). Kenaikan. Menurut Permen tersebut, tarif Listrik di Batam, Kepulauan Riau, naik rata-rata 14,8 persen per 1 Oktober 2008 dan akan ditagihkan kepada pelanggan pada November. “Setelah naik, harga listrik Batam rata-rata Rp1.074 per KWH, sebelumnya Rp935,5 per KWH,” kata Direktur Utama PT PLN Batam Zainuddin. Tapi kenaikan tarif ini tidak berlaku untuk semia golongan. Kenaikan itu meliputi tarif listrik untuk industri, bisnis, dan instansi pemerintah. Listrik untuk rumah tangga dengan pemakaian sampai 2.200 watt, tidak naik. Untuk tarif industri hanya naik delapan persen. Sedangkan mall yang tergolong tarif bisnis mengalami lonjakan yang cukup besar. ”Ini harus dicarikan solusi yang tepat,” papar Hijazi. Dengan lonjakan ini, tentunya akan memberatkan pedagang dan pengusaha mall. Bisa dibayangkan nantinya jika mall di Batam berguguran maka sektor riil akan macet. Padahal, sektor ini sebagai penggerak perekonomian. Selain dapat membuka lapangan kerja, warga Singapura dan Malaysia berbelanja di mall tiap akhir pekan. Dan bisa dibayangkan bagaimana Batam tanpa mall? (*)

Satu Tanggapan

  1. Assalamu alaykum.
    Salam kenal. Saya Irfan Lubis. Saat ini saya bekerja sebagai pengurus Lembaga Konsumen Hijau (LKH) ‘Todea’, Palu, Sulawesi Tengah. Sebelumnya saya sempat bekerja di Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Sulawesi Tengah antara tahun 1997-2001 dan Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) Sulawesi Selatan antara tahun 2001-2005.
    LKH ‘Todea’ sendiri kami dirikan tahun 2000. Saat ini kami sedang melakukan pembenahan lembaga yang sempat vakum selama beberapa tahun. Selain itu, secara pribadi saya juga mengelola sebuah blog konsumen (www.gerakankonsumen.blogspot.com). Silahkan dikunjungi dan berkontribusi di dalamnya.
    Melalui komentar ini saya ingin menjalin komunikasi dengan para pengurus Lembaga Konsumen Yogyakarta. Semoga perkenalan ini bisa membawa manfaat bagi kita semua di hari-hari ke depan.
    Terima kasih. Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: