Berciau Mencari Ilmu Agama

BANYAK pepatah yang menyuruh umat Islam untuk tetap mencari ilmu. Seperti halnya ‘’Carilah ilmu hingga ke negeri China’’ atau ‘’Belajarlah hingga sampai ke liang lahat.’’

Murid Sekolah Dasar berciau saat pulang dan pergi ke sekolah di pulau terdekat

Murid Sekolah Dasar berciau saat pulang dan pergi ke sekolah di pulau terdekat

Mencari ilmu merupakan kewajiban setiap muslim. Ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW oleh malaikat Jibril yakni Al ‘Alaq adalah perintah untuk mencari ilmu. Iqra’ begitu perintah Jibril kepada Muhammad di gua hira’. Padahal Muhammad tidak pandai membaca sejak kecil. Sehingga beliau pun menjawab saya tidak pandai membaca. Hingga akhirnya Jibril mengulangi sampai tiga kali untuk memerintahkan Muhammad untuk membaca.
Inti dari turunnya wahyu pertama ini adalah perintah untuk membaca seluruh ciptaan Allah, sebab Allah menjadikan kalam sebagai alat mengembangkan pengetahuan.
Berdasarkan hal tersebut maka tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak menuntut ilmu apalagi malas dalam mennuntut ilmu. Sebab ilmu merupakan kunci dalam meraih kehidupan di dunia dan di akhirat.
Masyarakat pulau, dengan segala keterbatasan juga memiliki semangat dalam menuntut ilmu. Dengan berdayung menggunakan sampan atau dalam bahasa melayu disebut dengan berciau, mereka mengarungi laut dari satu pulau ke pulau lain untuk mendalami ilmu. Baik itu ilmu pengetahuan umum maupun pengetahuan agama.

Mak Dayang masih bersemangat menimba ilmu agama

Mak Dayang masih bersemangat menimba ilmu agama

Tidak hanya anak-anak, nenek-nenek pun masih bersemangat untuk mencai ilmu agama. Seperti halnya mak Dayang.
Wanita yang sudah bercucu ini masih bersemangat untuk mendalami ilmu agama. Padahal untuk mencapai tempat ia menuntut ilmu yakni Pulau Air Mas dari tempat tinggalnya, ia harus naik sampan bersama dengan murid pengajian yang lain seusia cucunya. Namun, usia dan kondisi ini tak menghalanginya untuk mendalami ilmu agama dengan bimbingan Ustad Abdullah beserta istrinya Juariyah. Meskipun demikian, mak Dayang pun tak mampu membendung arus Kristenisasi yang begitu besar. Anak dan cucunya pun berpindah keyakinan ke agama Kristen. Alasannya, mereka bersuamikan orang nasrani.
Kondisi ini pun juga dialami oleh Pak Din, ketua suku laut di pulau Air Raja. Sebagian anak dan saudaranya pun memeluk agama Kristen. Penyebabnya bukan hanya karena perkawinan, namun karena kondisi perekonomian yang tidak mencukupi. Apalagi jika kondisi yang tidak memungkinkan untuk mencai ikan lagi, maka dengan sebungkus mie instan pun mereka rela menukar keyakinannya.
‘’Kadang di KTP mereka masih tertulis agama Islam,’’ tutur tokoh agama di Batam, H. Sulaiman.
Kondisi ini merupakan tanggung jawab semua umat Islam. Masing-masing pulau memiliki kebutuhan yang berbeda. Namun, intinya mereka bukan hanya membutuhkan tempat untuk mencari ilmu di tempat tinggalnya, melainkan juga sumber daya manusia yakni para dai untuk mengajarkan mereka tentang ilmu agama. Selain itu, kehidupan ekonomi masyarakat pulau dan para dai juga harus diperhatikan. Jangan sampai karena honor para dai yang tidak memadai maka para da’i kembali melaut mencari ikan dan masyarakat pulau akan menggadaikan keyakinannya karena kurang pembinaan. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: