Optimalkan Pelayanan Bandara Hang Nadim

KENAIKAN tarif jasa layanan bandara Hang Nadim pada tahun 2007 silam yang mencapai 130 persen mencuat. Hal ini juga dipicu dengan pembentukan Tim Konsultasi dan Pengawasan Layanan Bandara Hang Nadim dan pemberian honor Rp1,5 juta sebulan kepada masing-masing anggotanya yang dinilai tidak tepat sasaran.

Pelayanan Bandara perlu ditingkatkan

Pelayanan Bandara perlu ditingkatkan

Dari sepuluh anggotanya, tiga anggota berasal dari Yayasan Lembaga Konsumen Batam (YLKB) dan sisanya berasal dari pegawai Otorita Batam yang nota bene sebagai pelaksana operasional bandara.
Namun, terlepas ada atau tidak Tim Konsultasi dan Pengawasan Layanan Bandara Hang Nadim terdapat aturan tentang penetapan tarif jasa layanan bandara. Sesuai dengan PP No 70 tahun 2001 besaran tarif jasa kebandarudaraan pada bandara umum yang dikelola oleh pemerintah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah. Sedangkan yang dikelola oleh pemerintah provinsi ataupun pemerintah daerah ditetapkan oleh peraturan daerah.
Jadi, dalam hal ini Yayasan Lembaga Konsumen tidak dapat memaksakan penetapan tarif tersebut. Namun, yang dapat dilakukan adalah memberikan saran kepada pengelola atas pelayanan yang telah dilaksanakan. Jika pengelolaan dilakukan oleh pemerintah, maka menurut undang-undang perlindungan konsumen, pemerintah tidak dapat dilakukan penuntutan.

Situasi bandara Hang Nadim

Situasi bandara Hang Nadim

Tarif jasa layanan bandara Hang Nadim merupakan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNPB).Ketentuan ini dituangkan dalam UU tentang APBN. Sehingga Pemerintah Kota Batam dapat bagian dari tarif jasa layanan bandara
Hang Nadim yang masuk dalam kas daerah.
Selain menambah pendapatan bagi negara dan daerah, kenaikan ini dapat meningkatkan pelayanan dan kenyamanan bagi calon penumpang di bandara Hang Nadim.Kenyataannya, masih ada kekurangan. Lihat saja, lampu bandara yang mati hingga kamar mandi yang tidak ada kuncinya merupakan bentuk pelayanan yang belum optimal. Hal ini ditambah dengan sedikitnya tempat duduk penumpang di area publik.
Kekurangan ini pun telah disampaikan kepada pengelola bandara agar dapat ditindak lanjuti. (***)

Satu Tanggapan

  1. Terimakasih informasinya.
    Ada paradoks, dalam kisah tentang Hang Nadim ini.
    Pada satu sisi keberadaab yayasan lembaga konsumen di Batam seharusnya melindungi kepentingan konsumen.
    Pada sisi lainnya, ada fakta kepentingan konsumen belum terlindungi.
    Oleh karena itu, perlu usaha untuk mengikis paradoks ini.
    Untuk berbagi informasi lebih lanjut, tentang konsep rahmatan lil’alamiin, silahkan mampir ke “Sosiologi Dakwah” di http://sosiologidakwah.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: