Babi di Bumi Melayu

BATAM, bumi melayu. Melayu identik dengan Islam. Budaya dan kehidupan haruslah bernafaskan Islam. Tapi, kenyataanya, diskotek tumbuh bagaikan jamur di musim hujan. Kehidupan seks bebas, melanda hingga di tingkat pelajar. Belum lagi budaya-budaya yang telah merasuk dalam kehidupan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Memang, umat non muslim akan berupaya dengan berbagai cara untuk merusak aqidah umat Islam. Mereka tidak menargetkan agar umat Islam berpindah agama. Biarlah umat Islam tetap memeluk agamnya, asalkan prilakunya tidak sesuai dengan ajaran Islam itu sudah suatu keberhasilan, begitu upaya yang dilakukan.
Permasalahan yang nyata selain upaya penggeseran aqidah adalah membuka peternakan babi.
Babi merupakan binatang yang haram dikonsumsi oleh umat Islam. Namun, dalam kenyataannya kaum non muslim menjadikan babi ini sebagai ajang untuk ”menggusur”keberadaan umat Islam. Dalam sejarahnya, babi merupakan traktor pendek untuk ”menguasai” lahan di bumi melayu ini.
Aneh jika terdapat anggota dewan yang juga berminat dalam bidang ekonomi menyatakan, peternakan babi perlu mendapat perhatian pemerintah karena peternakan ini merupakan potensi ekonomi dalam mengatasi pengangguran. Padahal letak peternakan babi itu berada di kawasan bandara internasional Hang Nadim Batam. Dan jika ini tidak ditanggulangi maka status bandara Internasional dapat dicabut.
Sekali lagi pendapat yang aneh jika tetap mempertahankan peternakan babi disana dengan taruhan status bandara Hang Nadim. Padahal, bandara merupakan potensi ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan peternakan babi itu sendiri.
Dari sisi hukum, peternak babi tidak memiliki izin dalam melakukan kegiatannya. Ini mau ditertibkan malah minta ganti rugi pemindahan lahan. Nah, ini kan nggak mendidik masyarakat.
Di lihat dari sisi sosial, justeru peternakan babi tidak membawa dampak postif. Malah, dapat merusak tatanan dan prilaku sosial.
Gambarannya seperti ini, coba lepaskan tiga ekor ayam, dua ayam jantan dan satu ayam betina dalam satu kandang. Apa yang terjadi, dua ayam jantan itu akan beradu sampai mati untuk memperebutkan ayam betina.
Lantas, bagaimana jika ada tiga ekor babi yakni dua babi jantan dan satu babi betina. Maka yang terjadi, dua babi jantan itu akan saling bahu-membahu dan tolong menolong untuk ”menggarap” babi betina itu.
Artinya, rasa malu dan kecemburuan babi itu tidak ada. Dan bagi yang mengkonsumsinya, maka akan kehilangan rasa malu dan cemburu. Jadilah, tatanan masyarakat yang jauh dari nilai tatanan sosial bangsa Indonesia yang luhur. Semoga, anggota dewan di periode mendatang mamahami dan memiliki nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dan nilai luhur budaya melayu di bumi Hang Nadim ini.

4 Tanggapan

  1. Saya sangat kurang setuju dengan beberapa pendapat anda. Menurut saya pendapat anda terlalu egois dan kurang memperhatikan kelompok lain di luar kelompok anda sendiri. contoh:
    1 “Melayu identik dengan Islam. Budaya dan kehidupan haruslah bernafaskan Islam”
    Saya sangat kurang setuju dengan statement ini. Apa betul kalau Melayu identik dengan islam lantas Budaya dan kehidupan daerah Batam harus bernafaskan Islam? Cobalah anda lihatlah sekeliling anda, apakah Batam hanya dihuni oleh orang yang beragama islam? Kalau tidak, berarti ada keragaman di sana dan konsekwensinya Budaya dan kehidupan tidaklah harus bernafaskan Islam. Tapi saya sangat setuju kalau anda katakan, ORANG YANG BERAGAMA ISLAM MAKA BUDAYA DAN KEHIDUPANNYA HARUS BERNAFASKAN ISLAM.
    Saya sangat menghormati ke-islam-an anda. Tapi ‘mbo ya ingatlah di sekitar anda masih ada yang bukan islam. Artinya perspektif anda jangan terlalu islam-centris.

    2. “Memang, umat non muslim akan berupaya dengan berbagai cara untuk merusak aqidah umat Islam”.
    Kawan, saya yakin anda sudah dewasa. Artinya kalau memberikan pernyataan tentu sudah dipikir pakai otak bukan pakai nafsu. Saran saya adalah cobalah selalu berfikir bahwa ‘kelompok’ di luar anda tidak selalu berfikir begitu. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan pemikiran kita maka lantas kita tuduh ‘kelompok’ itu pasti berniat buruk kepada kelompok anda. Berfikirlah lebih dewasa dan terbuka.

    3.”Sekali lagi pendapat yang aneh jika tetap mempertahankan peternakan babi disana dengan taruhan status bandara Hang Nadim. Padahal, bandara merupakan potensi ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan peternakan babi itu sendiri.”
    Apa betul??? sudah berapa lama kegiatan peternakan babi ini berlangsung? dan apakah Bandara Hang Nadin jadi sepi, tidak ada pesawat yang landing, tidak ada wisatawan? … apa indikatornya…? jangan memberikan pernyataan tanpa bukti… itu adalah fitonah ehhh fitnah.

    4.”dari sisi hukum, peternak babi tidak memiliki izin dalam melakukan kegiatannya.”
    Mungkin ada yang perlu diklarifikasi di sini. Kalau yang melakukan kegitan peternakan adalah satu perusahaan, saya yakin harus ada ijin usahanya. Tapi kalau masyarakat biasa yang melakukan usaha peternakan kecil-kecilan, apakah harus ada ijin? Saya bayangkan jika ada beternak itik di sana apakah harus ada ijin? Masalah di sana banyak orang yang beternak babi maka itu sudah lai n cerita!.

    5. “Dan bagi yang mengkonsumsinya, maka akan kehilangan rasa malu dan cemburu”. Saya sedih membaca pernyataan ini!!!!! DI JAMAN MODERN BEGINI MASIH ADA ORANG YANG SUKA MEMBERIKAN PERNYATAAN YANG HANYA DIDASARKAN PADA EMOSI SEMATA!! kasihan saya ….

    Salam saya untuk anda.

  2. Pak Suhardi sepertinya anda yang emosi dalam hal ini… Saya kasihan kepada anda

  3. kepada Suhardi Utomo,bpk bilang di jaman modeer ini msh ada orang yg suka memberikan pernyataan dgn EMOSI,dari kata2 diatas aja kita sdh bisa melihat,siapa yg dengan emosi dan siapa yang tidak…untuk masalah dewasa,menurut saya sdh lelihatan kok mana yg dewasa dan mana yang tidak,orang dewasa selalu melihat suatu persoalan dengan kepala yg dingin..apakah anda seperti itu???lho,bknkah memang melayu itu identik dgn islam,silahkan ada bertanya pendapat orang2 kebanyakan,melayu itu identik dgn islam tidak? Semoga bapak dapat lebih arif dalam menyikapi sesuatu…

  4. Saya kira tulisan diatas tidak ada yang salah, dan komentar yang kontra itu hanya sebatas karena kurang pengetahuan dalam bidang sejarah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: