Jebolnya Aqidah Islam di Bumi Melayu

BATAM terletak di perbatasan Singapura dan Malaysia. Pulau yang berbentuk Kalajengking ini merupakan bumi Melayu yang identik dengan Islam. Namun waqrga Melyu tidak egois. Bumi Hang Nadin nan Bertuah ini pun menerima siapa saja yang ingin mengais rejeki di Bumi Segantang Lada ini. Tapi ini hanya untuk alasan atau atas dasar ekonomi. Namun dalam perkembangannya ini telah bergeser.

Upaya Batam dan pulau di sekitarnya dijadikan sebagai tempat atau ajang pemurtadan pun terasa. Spanduk dan baliho tentang pengobatan gratis dari pembicara luar negeri pun tersebar di beberapa sudut Kota Batam.

Isinya Mau Sembuh Datanglah , pada tanggal 12 – 14 Nopember 2008 dalam acara Batam Ferstival Persahabatan dan & Kesembuhan yang dilaksanakan di Stadion Tumenggung Abdul Jamal.

Bukan hanya baliho, spanduk juga makin tersebar dengan jumlah yang makin banyak. Dan sudah merambat ke perumahan-perumahan. Melihat situasi ini beberapa tokoh masyarakat pun mulai bereaksi. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepri h Azhari Abbas, Ketua MUI Kota Batam H Usman Ahmad, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Imran AZ beserta Sekretaris Yayasan Lembaga Konsumen Muslim Batam (YLKMB) Aries Kurniawan melaporkan hal ini kepada Kapoltabes Barelang Kombes Pol Slamet Riyanto dan Kajari Batam. Atas laporan ini Slamet pun berjanji akan membahasnya di Muspida.

Namun, sayangnya, penjelasan yang kami terima pun membuat hati miris. ’’Izin atas penyelenggaraan ini adalah dari Mabes Polri dan kami hanya dapat memberi rekomendasi,’’ ujar pria yang mempunyai hobi jet ski ini.

Jawaban yang sama juga kami terima dari Kepala Kantor Departemen Agama (Depag) (Kakandepag) Kota Batam, Khudri Syam dan Kakanwil Depag Provinsi Kepri Rajali Jaya.’’Kami hanya bisa memberikan rekomendasi. ’’Izinya tetap dari pusat,’’ ujarnya pada Kamis (6/11) di Asrama Haji.

Tak puas sampai di sini, kami terus melakukan pembahasan. Sehingga disepakati pada Sabtu (8/11) kami melakukan talk show di radio As Salam di ruko Sukajadi. Cukup sampai disini? Kami pun melakukan penyebaran pamflet dan memasang spanduk yang berisi tentang Fatwa MUI yang menyatakan menghadiri acara tersebut adalah haram.

Namun, ternyata usaha kaun Nasrani pun tak tanggung-tanggung. Media massa pun dikuasainya. Iklan di media cetak pun gencar dilakukan. Setengah halaman tiap hari. Perkiraan kami setiap naik, iklan tersebut senilai Rp6 juta. Belum lagi baliho, spanduk, iklan radio yang dipasang. Meskipun kegiatannya bersifat keagamaan, namun dalam iklan atau reklamenya tidak menyebutkan bahwa kegiatan ini khusus untuk umatnya.

Padahal, kegiatan yang dilaksanakan ini berdampak bagi umat Islam untuk murtad jika menghadirinya. Bagaimana tidak. Pengakuan muallaf yang pernah menyelenggarakan kegiatan ini tentunya menjadi landasan bahwa kegiatan ini benar-benar suatu kegiatan yang dikemas sehingga umat Islam yang datang dapat menjadi murtad.

Dan usaha pun terus dilakukan untuk membentengi agar aqidah tidak jebol seperti yang terjadi di Pulau Kubung – Telaga Punggur – Batam. MUI pun mengeluarkan surat protes atas kegiatan ini.

Satu Tanggapan

  1. masih ada yang kaya gini??….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: