Memberdayakan Masyarakat Suku Laut

PEMBERDAYAAN manusia harus dilakukan dengan tiga aspek, yakni melalui pendidikan, peningkatan perekonomian dan pembinaan agama. Masyarakat suku laut khususnya di sekitar Pulau Batam perlu mendapatkan pembinaan ketiganya sekaligus.

Dalam bidang pendidikan, mereka tertinggal dengan masyarakat di Pulau Batam sebagai mainisland. Rata-rata mereka belum dapat mengenyam pendidikan dengan mudah. Letak geografisnya yang sulit karena antara satu pulau dengan pulau yang lain terpisah oleh laut. Selain itu, di masing-masing pulau penduduknya tidak banyak. Sehingga secara ekonomis tidak memungkinkan untuk didirikan satu sekolah di satu pulau.

Beberapa cara telah dilakukan, diantaranya dengan mengajak masyarakat suku laut untuk melanjutkan pendidikan di Batam. Namun, cara ini tidak dapat berjalan dengan optimal karena berbagai alasan. Diantaranya banyak yang tidak betah untuk tinggal di Batam.

Belum lagi dengan pembinaan bidang rohani atau agama. Ternyata, masyarakat suku laut merindukan adanya da’i yang membina mereka dalam keagamaan. Dalam sejarahnya pada abad 17, masyarakat suku laut memeluk agama Islam. Mereka lari ke laut karena penjajahan Belanda. Mereka adalah pendukung kesultanan Johor yang nota bene beragama Islam. Namun, karena beratus tahun berada di laut mereka kurang terbina di bidang keagamaan.

Jadi tak heran, jika mereka tidak mengetahui cara berwudhu, shalat, bahkan menguburkan mayat. Seperti yang dialami pak Jamaludin. Pengetahuannya terhadap agama diakuinya rendah. Bahkan, tiga anaknya telah beralih agama.

Gempuran kaum misionaris akhirnya berimbas kepada ketua suku laut ini. Ia pun telah mengadu kepada Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Dr Chablulah Wibisino. Namun, karena kesibukannya hingga saat ini belum ada realisasinya.

Dengan mengajak teman-teman terutama wartawan, kepala KUA hingga LAZ Masjid Raya Batam, perubahan dan perkembangan telah terjadi. Di Pulau Kubung misalnya, setelah menjadikan Ainur Rafiq sebagai dai. Pembangunan mushola pun dapat dilaksanakan, meskipun masih terletak di atas laut bukan di darat. Puluhan orang pun menjadi mualaf. Dan pernikahan masal telah diadakan.

Ternyata, ini belumlah cukup. Karena gerak kaum misionaris dengan dana yang lebih besar, mereka kini membangun sekolah non muslim.

Permasalahan ini pun harus diperhatikan dengan cepat. Dengan mengadakan silaturahim bersama masyarakat suku laut diharapkan permasalahan yang terjadi dapat diketahui dan diatasi.

Di bidang ekonomi, karena kurangnya pendidikan maka masyarakat suku laut belum optimal memberdayakan sumber daya alam yang ada. Lena misalnya, wanita berusia sekitar 40 tahun ini mengembangkan sumber daya dan potensi masyarakat suku laut.

Bilis atau ikan ter pun dapat diolah menjadi bilis molen. Setengah kilo gram (500 gram) seharga Rp130.000. Untuk membuat bilis molen lumayan rumit ikan sekecil itu dibungkus dengan tepung trigu seperti pisang molen,  kayaknya memakan waktu memelintir adonan tepung terigu melilit ikan bilis (teri) yang kecilnya kira-kira sebesar cabe rawit itu.

Wanita ini pun mengembangkan usaha perabot dari kerang atau sampah laut. ‘’Kami memodifikasinya sama halnya dengan membuat perabot dari kayu,’’ tuturnya dalam perjalanan mencari angkutan di Telaga Punggur.

“Bukan Bilis molen saja pak, ada juga kue rokok, dan epok-epok kecil, enak lho pak ” kata  Lena berpromosi.   

Jadi dalam meningkatkan sumber daya manusia masyarakat pulau harus mengembangkan tiga bidang. Yakni bidang pendidikan, agama dan ekonomi.

 

    

Satu Tanggapan

  1. Enak dibaca, mungkin kita perlu juga mengeksplorasi nilai-nilai kehidupan mereka yang terangkum dalam paham Ketuhanan, Manusia dan alam secara sekaligus dan dari nilai tersebut dikembangkan apa yang dimaksud dengan “memberdayakan Masyarakat Suku Laut”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: