Jual Obat Diatas HET, Pelaku Usaha Dapat Dipidanakan

PEMERINTAH telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No 069/Menkes/SK/II/2006 tentang Pencantuman Harga Eceran Tertinggi pada Label Obat. Namun pada kenyataannya masih ditemuni banyak pelanggaran atas peraturan yang ditandatangani oleh Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP(K) pada tanggal 7 Februari 2006 ini.

Padahal latar belakang keluarnya peraturan ini adalah banyaknya variasi harga obat yang beredar di apotik maupun di pasaran telah menimbulkan ketidakpastian bagi masyarakat dalam memperoleh obat yang dibutuhkan.

Selain itu, untuk memberikan informasi harga obat yang benar dan transparan baik bagi masyarakat, perlu mencantumkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pada label obat.

Pada peraturan ini HET yang dicantumkan pada label obat adalah Harga Netto Apotik (HNA) ditambah PPN 10% ditambah margin apotik 25%.

Dalam lampiran peraturan disebutkan Pabrik obat dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak ditetapkannya peraturan ini harus sudah mencantumkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pada label obat yang diproduksi dan diedarkan.

Selanjutnya, Apotik dan Pedagang Besar Farmasi yang memiliki Obat tanpa label Harga Eceran Tertinggi pada kemasan lama masih boleh memperdagangkan paling lambat 6 (enam) bulan sejak ditetapkannya Keputusan ini.  

Apabila ditemukan pelanggaran maka Pembinaan dan pengawasan dilakukan oleh Pemerintah Pusat baik Departemen Kesehatan maupun Badan Pengawas Obat dan Makanan bersama dengan Pemerintah Daerah.

Dengan penetapan Keputusan Pemerintah ini seharusnya tidak ada Apotik atau Pedagang Besar Farmasi yang menjual melebihi ketentuan HET. Atau jika ada selisih tidak lebih dari sepuluh persen. Sebab dalam HET telaj jelas menetapkan komponen untuk keuntungan Apotik sebesar 25 persen ditambah PPN 10 persen. Khusus Batam, keuntungan tersebut makin besar dimiliki pedagang karena di Batam tidak menetapkan PPN sebesar 10 persen.

Lantas bagaimana jika masih ditemukan adanya pelanggaran? Hal yang harus dilakukan adalah:

  1. Konsumen dapat menanyakan langsung kepada pelaku usaha terhadap selisih harga yang dijual dengan HET yang tercantum pada label obat.
  2. Konsumen dapat mengadu langsung ke instansi terkait untuk menanyakan tentang kondisi yang telah ditemukan.
  3. Jika hal ini tidak dapat respon yang positif maka konsumen dapat mengajukan gugatan baik secara langsung ke Pengadilan Negeri ataupun ke lembaga arbitrase konsumen yakni Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) setempat. Ataupun dapat mewakilkan gugatannya kepada Yayasan Lembaga Konsumen Setempat.

Hal ini perlu dilakukan karena, konsumen berhak untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan benar terhadap barang yang dibelinya. Dan ini diatur dlam UU No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Yakni pada pasal 7 ayat b yang menyebutkan pelaku usaha berkewajiban memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan.

Selain itu, pelaku usaha juga dapat dituntut karena melanggar pasal 8 ayat 1f yang menyatakan pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang tidak mencantumkan janji yang dicantumkan pada label, etiket, keterangan barang dan/atau jasa tersebut.

Dalam pasal 62 ayat 1 pelaku usaha yang melanggar tersebut diancam hukuman pidana paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp2.000.000.000 (dua miliar). Jadi masih beranikah pelaku usaha melanggar peraturan ini? (***)

 

 

2 Tanggapan

  1. angkax 2 jt… tp bilngnx 2milyar
    so yg mn yg btl??

  2. Tks sangat informatif. Saya gak lihat perbedaan 2jt dengan 2milyar spt komentar sblmnya (mgkn sudah diperbaiki).
    Btw, bagi saya sih pertanyaannya bukan “Jadi masih beranikah pelaku usaha melanggar peraturan ini?” tapi lebih ke “beranikah kita sbg konsumen melaporkan pelanggaran2 ini?”
    Jangan2 kalau gugatannya ditolak, pelaku bisnis malah menggugat kita. Gawattttt😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: