Makanan Halal di Singapura-Malaysia dan Thailand

Umat Islam wajib mengkonsumsi makanan halal. Bukan hanya halal melainkan juga Thoyiban (yang baik). Namun, kondisi di lapangan menyedihkan. Belum semua umat Islam peduli tentang ini. Bahkan, banyak juga acara buka puasa bersama dilaksanakan di tempat yang tidak bersertifikat halal. Lantas bagaimana negara tetangga kita mengatur dan mengelola makanan yang bersertifikat halal ini? Berikut petikan perjalanan Buletin Jumat di Singapura – Malaysia dan Thailand.

 

Pada bulan Ramadhan 1428 H  tahun lalu Buletin Jumat melakukan perjalanan di tiga negara, yakni Singapura – Malaysia dan Thailand. Perjalanan pada saat menjalankan ibadah puasa ternyata lebih leluasa. Kita tidak memikirkan untuk makan siang dan sebagainya.

Bukan hanya itu, untuk mendapatkan dan membedakan makanan yang berstatus halal ternyata lebih mudah  jika dibandingkan dengan di Indonesia. Sebab, rumah makan atau restourant yang akan memampang label halal untuk memastikan makanan yang disajikan adalah halal.

Demikian juga ketika Buletin Jumat, berada di bandara Changi – Singapura. Buletin Jumat dapat mengenali dengan mudah makanan yang disajikan tersebut halal atau tidak. Yang jelas mereka tidak memampang atau menunjukan sertifikat halal di resto tersebut. Selain itu, kita dapat membaca menunya apakah mereka menyajikan makanan yang halal atau tidak.

Di satu sisi, jika makanan tersebut telah mendapatkan sertifikat halal maka mereka akan menunjukannya. Seperti halnya ketika Buletin Jumat melakukan perjalanan dari Singapura menuju Bangkok-Thailand. Beberapa resto memampang dengan jelas logo halal.

Ketika melakukan perjalanan darat ke Kuala Lumpur – Malaysia, resto di sepanjang jalan tempat para penumpang bus makan juga memampang logo halal. Bukan hanya itu, cara penjualan juga sesuai dengan syariah, ijab dulu baru makan artinya bayar dulu baru nikmati makanannya. Bandingkan dengan cara penyajian rumah makan padang yang tetap menggunakan cara lama, makan dulu baru bayar.

Kondisi di Thailand juga sama. Kita dapat mengenali resto mana yang menyajikan makanan halal. Bahkan, ketika Buletin Jumat melakukan perjalanan secara rombongan, guide kami pun mengajak makan dengan pemilik dan pengelola yang muslim.

Namun, susahnya jika kita menginap di hotel Internasional yang tidak bersertifikat halal. Saat menyajikan makanan, di tempat yang satu terdapat nasi goreng tanpa babi (no pork), di tempat yang bersampingan terdapat nasi goreng dengan babi. Dan piring serta sendok maupun tempatnya menjadi satu. Ini jelas statusnya tidak halal. Maka sebaiknya, jika melakukan perjalanan ke Thailand pilihlah hotel muslim yang restonya telah bersertifikat halal.

Di sisi lain, kegigihan atau upaya mereka untuk mengembangkan makanan halal pun patut direspon positif. Dengan jumlah penduduk yang terbatas, dan produk yang beroreintasi ekspor, mereka berlomba untuk mendapatkan setifikasi halal. Hal ini juga dilakukan oleh Bandara Swanarbhumi-Thailand yang melakukan sertifikasi makanan halal yang berada di pesawat.

Riset tentang makanan halal pun tidak tanggung-tanggung. Buletin Jumat, juga menyambangi pusat riset makanan halal yang konon adalah terlengkap dan tercanggih di dunia.

Riset pimpinan Dr Winai Dahlan – cucu pendiri Muhammadiyah K.H Ahmad Dahlan ini dapat mendeteksi DNA babi di dalam kemasan kaleng sekalipun. Dengan berbagai peralatan yang dimiliki mereka pun melakukan verifikasi makanan yang beredar maupun yang mengajukan sertifikat halal. Hasil verifikasi ini dikirim ke MUI setempat untuk diberikan rekomendasi.

Dan ini pun kami bandingkan dengan cara kerja LP POM MUI yang saat ini dipimpin Dr Ir Muhammad Nadratuzzaman Hosen atau akrab disapa Nadra. Pengecekan, katanya, dilakukan dengan cara membuat listing atau daftar barang dan cara perolehannya melalui hulu dan hilir.

Jadi terdapat dua metode yang berbeda yang digunakan oleh dua lembaga tersebut. Di satus sisi menggunakan metode pendekatan teknologi. Di satu sisi menggunakan metode listing yang dapat dilihat secara kasat mata. Dua metode ini mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing. Dan ini harus dipadukan sebab kita tidak dapat melihat apakah makanan dalam kaleng telah melalui proses penyembelihan secara syariah. (***)

Satu Tanggapan

  1. Yah memang ada keunikan dan pahala tersendiri ketika kita berusaha mencari makananan halal di negeri yang jauh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: