Kesadaran Mengkonsumsi Makanan Bersertifikat Halal

KAMI mengundang bapak dan ibu untuk buka bersama di Harbour Bay Seafood Resto tanggal 11. Demikian pesan singkat atau sms yang Buletin Jumat pada tanggal 8 September 2008.

Kesadaran untuk berbuka puasa di tempat yang bersertifikat halal perlu digerakan. Pesan singkat ini menunjukan bahwa masyarakat belum peduli untuk makan di tempat yang bersertifikat halal. Berdasarkan data Buletin Jumat, baru dua hotel di Batam yang mendapatkan sertifikat halal. Pertama adalah Hotel Pusat Informasi Haji (PIH) dan Hotel Nagoya Plaza. Lainnya, belum mendapatkan sertifikat halal.

Namun kondisi ini belum membuat masyarakat muslim untuk tergerak. Banyak penawaran melalui iklan untuk mengadakan acara buka bersama di hotel atau restourant yang belum memiliki sertifikasi halal. Dan banyak pula acara berbuka puasa yang dia adakan di hotel atau restorant yang belum memiliki sertifikat halal.

Padahal dalam Al Quran dengan tegas disebutkan : “Wahai orang yang beriman, makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepadaNya saja kamu menyembah” (Al-Baqarah: 172).

 Perintah untuk mengkonsumsi makanan halal pun telah jelas. Namun, kesadaran masyarakat masih kurang. Masih banyak dijumpai masyarakat muslim yang mengkonsumsi makanan yang belum bersertifikat halal.

Untuk itu, perlu adanya sosialisasi dan pendidikan bagi masyarakat agar mengkonsumsi makanan halal. Cara-cara yang dilakukan adalah:

  1. Menekankan kepada para ulama atau dai untuk mengubah pola materi ceramah. Perbanyak ceramah tentang kewajiban untuk makan makanan yang halal.
  2. Melakukan sosialisasi melalui media. Ini telah dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Muslim (YLKM) Batam sejak delapan tahun silam.
  3. Memasukan kesadaran mengkonsumsi makanan halal melalui materi pendidikan secara formal maupun non formal.
  4. Menggerakan pengurus dan anggota PKK untuk melakukan sosialisasi kesadaran makan makanan halal kepada ibu-ibu di lingkungan setempat.
  5. Mengoptimalkan peran serta KUA dan Puskesmas setempat untuk mendidik masyarakat.

Dengan gerakan sosialisasi secara terus menerus maka diharapkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi makanan berstatus halal lebih meningkat. Sebab selama ini masyarakat belum terdidik untuk mengkonsumsi makanan yang berstatus halal.

Buktinya, saat YLKM – Batam menjadi pembicara pada sosialisasi kedasaran konsumen oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, para peserta banyak yang belum mengetahui jika masakan sea food pun statusnya bisa tidak halal. Restosea food menggunakan ang cui atau arak untuk memasak ikan. Ini yang membuat status makanan itu menjadi tidak halal.

Selain itu, hampir sembilan puluh persen kuas untuk roti terbuat dari rambut babi. Karena bahan tersebut mampu membuat roti menjadi lebih awet dan empuk. Belum lagi, apakan minuman isi ulang yang kita minum telah berstatus halal. Karena karbon untuk menyaring air tersebut bisa terbuat dari tulang babi. Dan jika terbuat dari tulang sapi, apakah penyembelihannya sesuai dengan syariah. (***)

 

 

Satu Tanggapan

  1. Memang repot kalau mau cari makanan halal di luar rumah.
    Saya lebih suka masakan rumah dan bila ingin makan daging… ya potong sendiri sesuai syariah, jadi makanan yang saya konsumsi sudah pasti halal.
    Minyak goreng jarang digunakan karena kami lebih senang makanan yang direbus/kukus (hitung-hitung mengurangi kolesterol).
    Itulah cara sederhana menghindari makanan haram. semoga bermanfaat.
    salam kenal
    Okta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: