Warga Suku Laut Tak Ngerti Cara Berwudhu

AHAD, (29/6) cuaca agak mendung dan gerimis ketika rombongan dari Yayasan Pen¬di¬dikan Islam Hang Tuah, De¬par¬¬temen Agama, Kantor U¬ru¬san Agama Belakang Padang, Pos Metro, Batam Pos, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Masjid Raya Batam dan Pol¬tek Batam menuju pulau di ba¬gi¬an barat Batam.
Pompong atau boat yang di¬na¬iki tetap melaju membelah la¬u¬tan menuju pulau Gara. Na¬mun, sebelumnya ketua rom¬bo¬ngan yang juga Pendiri Yayasan Pen¬didikan Pen¬didikan Islam Hang Tuah Imbalo Iman Sakti men¬¬jemput tokoh masyarakat pu¬lau Kasu, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Masjid Raya Batam Centre dan Kepala KUA Belakang Padang.
Di tengah gerimis, boat me¬laju ke pulau Gara. Setelah dua puluh menit perjalanan dari Be¬lakang Padang, tampak ru¬mah berwarna putih yang seragam.
Rombongan menaiki pelantar, di pelantar masyarakat telah menyambut kedatangan kami. Kebetulan pada saat itu ada pengajian rutin.
Sehingga semua rombongan berkumpul di masjid An Nur Pulau Gara. Pada kesempatan itu, pengurus LAZ Masjid Raya Batam Centre mengaku hingga saat ini belum ada program pembinaan dari LAZ untuk wilayah Batam Barat. Yang saat ini berjalan hanya di wilayah pulau Air Mas atau pulau Kubung.
’’Di daerah tersebut telah kami buat program wisata dakwah bagi majelis taklim yang mau berkunjung di sana. Untuk itu, kami akan buat program serupa di wilayah ini,’’ janjinya.
Pada kesempatan yang sama Sekretaris Lurah (Seklur) Kasu dan tokoh masyarakat pak Atan mengungkapkan, sejak tahun 1991 pulau Gara ataupun pulau Bertam telah dibina oleh FKKS pimpinan ibu Sri Soedarsonopada saat itu jumlah Kepala Keluarga (KK) empat puluh empat, dan saat ini telah berkembang menjadi 53 KK.
’’Yang menjadi kendala saat ini adalah masyarakat tidak dapat melaut dalam jangkauan yang dekat karena adanya pencemaran lingkungan di wilayah Tanjung Uncang,’’ ujarnya.
Sehingga dari sisi ekonomi, kebutuhan keluarga masih kurang.
Selain itu, katanya, banyak masyarakat pulau yang masih nikah secara adat. Sehingga mereka membutuhkan nikah secara hukum formal. Dan Departemen Sosial telah melakukan nikah masal sebanyak 36 pasang.
Saat ini, ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh semua pihak diantaranya, perlu adanya kerjasama agar masyarakat pulau tidak dipengaruhi oleh pihak luar khusunya tentang Kristenisasi. Buktinya, saat ini masih ada masyarakat suku laut yang masih memiliki hubungan keluarga meskipun mereka telah beda agama.
Sementara, Bima Sakti yang mewakili Kepala Kantor Departemen Agama Kota Batam menyatakan saat ini perhatian Pemerintah Kota Batam terhadap masyarakat suku laut di pulau berkurang jika dibandingkan pada saat Wali Kota Nyat Kadir. Pada saat itu terdapat bantuan Al Quran hingga renovasi masjid.
Pada saat itu terdapat masukan bagi Departemen Agama terutama pendataan guru TPA yang ada di Pulau, karena terdapat guru TPA belum terdata yang semestinya mendapatkan haknya insentif dari pemerintah.
Ulama atau guru ngaji setempat Jamaludin mengaku hingga saat ini masih terdapat kekurangan dalam pembinaan agama. Bahkan, hingga saat ini masih ada masyarakat yang belum dapat membaca Al Quran.
Bahkan, kata alumni ponpes di Jakarta ini mengatakan pada saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau Gara, masyarakat pun tak mengetahui tata cara berwudhu.
’’Dan selama empat tahun di pulau Alhamdulillah saat ini anak-anak sudah dapat membaca Al Quran,’’ tuturnya. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: