Blokade Situs Porno, Tirulah China

’’Belajarlah hingga ke negeri China’’. Demikian pepatah menyatakan agar umat Islam dapat belajar tanpa batas jarak dan waktu.
Mengingat ungkapan di atas, bangsa Indonesia harus belajar dalam pengontrolan internet. Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta dan 85 persen di antaranya muslim, China jauh lebih unggul dalam mengontrol teknologi internet di negaranya.
Manager Custumer Care PT Telkom Kandatel Riau Kepulauan, Sudarto mengatakan pemerintah China sangat ketat dalam mengontrolan teknologi internet.
’’Bahkan mereka membatasi penggunaan teknologi 3g untuk hand phone dengan alasan teknologi tersebut hanya digunakan sebagai ajang penyebaran foto porno,’’ jelas Sudarto yang baru saja melakukan kunjungan kerja di negeri tirai bambu tersebut.
Langkah yang dilakukan pemerintah China diantaranya, menutup 44.000 situs internet dan menahan lebih dari delapan ratus orang tahun lalu, dalam upaya pemerintah untuk meredam pornografi internet.
Langkah ini sebelumnya diikuti dengan puluhan ribu orang dikerahkan untuk menyensor isi internet dan menyaring jaringan-jaringan internet.
Sekitar 199.000 situs didaftarkan pada pemerintah tahun lalu, namun sekitar 14 ribu lainnya tidak memiliki akses ke intenet karena tidak mendapatkan izin resmi.
Langkah selanjutnya, ungkap Sudarto, pemerintah China memiliki internet protocol sendiri untuk mengontrol perkembangan web site di negaranya. Bahkan, untuk pembukaan izin website harus terlebih dahulu mendapat izin dari pemerintah setempat.
Indonesia Lebih Bebas?
Hal ini berbeda dengan pemerintah Indonesia yang memberikan kebebasan kepada perusahaan swasta bahkan pribadi untuk memiliki internet protocol (IP).
Pemerintah China, lanjutnya, menganggap pornografi sebagai masalah sosial besar yang harus ditangani.
Upaya meredam situs porno ini dipusatkan pada mereka yang meraup keuntungan dengan menyebarkan pornografi melalui internet dan telepon seluler, operator situs porno di luar negeri serta pengguna internet di China.
Penegasan meredam situs porno ini disampaikan bulan April lalu, oleh Presiden China Hu Jintao yang langsung memerintahkan otoritas yang berwenang untuk mempromosikan apa yang disebut ” budaya online yang sehat. ”
Jintao menyatakan, aparat berwenang perlu meningkatkan upaya memberikan bimbingan tentang pemakaian internet guna menjaga stabilitas negara.
Presiden China menegaskan hal itu, setelah sebuah lembaga yang peduli dengan masalah kenakalan remaja-Beizing Reformatory for Juvenile Delinquents-merilis laporan yang menyebutkan bahwa 33, 5 persen anak-anak dan remaja yang kini berada dalam tahanan karena kasus pencurian dan perkosaan, dipengaruhi oleh perilaku kekerasan yang ditonjolkan dalam game-game di internet dan situs-situs porno.
China adalah negara kedua terbesar yang masyarakatnya banyak menggunakan internet. Pada tahun 2006, tercatat 137 juta pengguna internet di China, naik 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah ini hampir menyamai jumlah pengguna internet di AS.
Saat ini ada sekitar 120 ribu cafe internet di China dan kebanyakan orang datang ke cafe internet untuk menghabiskan waktu berjam-jam bermain game. Sehingga mengakibatkan tewasnya seorang anak akibat ketagihan bermain game di internet.
Sehingga, pengadilan Shanghai memerintahkan pemilik cafe internet untuk membayar ganti rugi sebesar 11. 200 dollar AS pada keluarga yang anak laki-lakinya pingsan dan akhirnya meninggal dunia, setelah dua hari berturut-turut bermain game di internet. Dengan demikian langkah apa yang seharusnya diambil pemerintah ? (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: