Qishash untuk Pemimpin

Kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto kian menurun. Saat berita ini ditulis Pak Harto masih dirawat intensif di lantai V Rumah sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Selatan. Pak Harto dilarikan ke RSPP pada Jumat 4 Januari 2008 sekitar pukul 14.15 karena mengalami komplikasi akibat tidak sempurna fungsi jantung dan ginjal .
Dalam kondisi kesehatan yang terganggu dan usia yang sepuh yakni sekitar 86 tahun lebih pak Harto dihadapkan pada perkara hukum yang mengganjal. Ia pertama kali diperiksa oleh tim Kejaksaan Agung pada 9 Desember 1998, saat pemerintah di bawah kendali Presiden B.J Habibie, dengan dugaan terjadi penyimpangan penggunaan dana tujuh yayasan yang dikelola Soeharto yang bernilai total Rp4,104 trilyun.
Saat berlangsung pengusutan, Pak Harto terserang stroke pada 19 Juli 1999. Lantas tiga bulan kemudian, Kejaksaan Agung menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) karena tuduhan korupsi tidak terbukti akibat minimnya bukti. Ketika Presiden dijabat Gus Dur, kasus hukumnya dihidupkan kembali. Marzuki Darusman, Jaksa Agung saat itu, mencabut SP3 Pak Harto.
Bahkan kasusnya sampai bergulir ke meja hijau, dan pak Harto ditetapkan sebagai tahanan rumah. Persidangan berlangsung di Departemen Pertanian, Jakarta Selatan. Namun, Pak Harto tidak sekalipun hadir dipersidangan pertama pada 31 Agustus 2000 maupun sidang kedua 14 September 2000, karena alasan sakit. Pada sidang 28 September 2000, majelis hakim menetapkan penuntutan perkara pidana Soeharto tidak dapat diterima dan sidang dihentikan. Alasan kesehatan membuat tak ada jaminan pak Harto dapat hadir di persidangan. Meski demikian, pak Harto dapat kembali disidangkan jika kondisinya sehat.
Kandas di ranah Pidana, Jaksa Agung melirik wilayah perdata. Objek perkaranya tetap masalah dana tujuh yayasan.
Lantas bagaimana sikap yang harus dilakukan masyarakat menghadapi hal ini ? Sebaiknya kita mengambil contoh Rasulullah SAW.
Saat Rasulullah SAW merasa bahwa ajalnya hampir menjelang, beliau menyuruh Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan azan. Maka, berkumpullah para Muhajirin dan Ansar di Masjid Nabawi. Kemudian Rasulullah menunaikan salat dua rakaat bersama semua yang hadir.
Setelah selesai, beliau bangun dan naik ke atas mimbar lalu berkata, “Alhamdulillah, wahai para Muslimin, sesungguhnya aku adalah seorang nabi yang diutus untuk mengajak orang kepada jalan Allah. Aku ini adalah sebagai saudara kandung kamu, yang kasih dan sayang pada kamu semua seperti seorang ayah. Oleh itu karena itu, siapa yang mempunyai hak untuk dituntut, maka hendaklah dia bangun dan memberitahu aku sebelum aku dituntut di hari kiamat.”
Rasulullah berkata demikian sebanyak tiga kali. Kemudian, bangun seorang lelaki yang bernama ‘Ukasyah Bin Muhshan’ dan berkata,” Demi ayah dan ibuku, ya, Rasulullah, karena anda mengumumkan kepada kami berkali- kali, maka saya ingin mengemukakan satu hal. Sesungguhnya, dalam perang Badar, aku bersamamu, ya Rasulullah, pada masa itu aku mengikuti unta Anda dari belakang, setelah dekat aku pun turun menghampiri anda dengan tujuan supaya dapat mencium kaki anda, tetapi anda telah mengambil tongkat dan memukul unta anda supaya berjalan cepat, ketika itu, tulang rusukku terpukul pula olehmu. Karena itu, aku ingin tahu, apakah engkau sengaja memukulku atau tidak memukulku?”
Rasulullah berkata, “Wahai Ukasyah, aku sengaja memukul kamu.”
Kemudian Rasulullah berkata kepada Bilal r.a., “Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkatku, lalu bawa kemari. “
Bilal yang mendapat perintah dari Rasulullah SAW langsung keluar dari masjid menuju rumah Fatimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala karena tahu apa yang hendak dilakukan Rasulullah, “Rupanya Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk di qishash.”
Setelah Bilal sampai di rumah Fatimah, Bilal pun mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Dari dalam rumah, terdengar suara Fatimah menjawab salam Bilal, dan bertanya, “Siapakah di pintu?”
“Aku Bilal, aku diperintahkan Rasulullah untuk mengambil tongkatnya.”
“Wahai Bilal, untuk apa ayahku meminta tongkatnya?” “Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk di qishash.”
“Siapakah manusia yang sampai hatinya mengqishash Rasulullah?”
Bilal tidak menjawab pertanyaan Fatimah. Fatimah pun tidak bertanya lebih lanjut, ia menyerahkan tongkat tersebut kepada Bilal untuk kemudian diserahkan kepada Rasulullah.
Rasulullah SAW menerima tongkat tersebut dari Bilal, lalu beliau menyerahkannya kepada Ukasyah. Melihat gelagat qishash akan dimulai, Abu Bakar dan Umar tampil ke hadapan sambil berkata, “Wahai Ukasyah, janganlah kamu mengqishash baginda Rasulullah, tetapi qishashlah kami berdua sebagai gantinya!” Namun, Rasulullah segera berkata, “Wahai Abu Bakar dan Umar, duduklah kamu! Sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempat untuk kamu berdua.” Ali ra. yang sedari tadi ikut menyaksikan peristiwa tersebut, bangkit dari duduknya seraya berteriak dengan suara lantang, “Hai Ukasyah! Aku adalah orang yang sentiasa berada di samping Rasulullah SAW. Karena itu, pukullah aku dan janganlah kamu mengqishash Rasulullah.”
Rasulullah pun berkata, “Wahai Ali, duduklah kamu. Sesungguhnya Allah telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.”
Setelah itu, Hasan dan Husin yang saat itu masih berumur anak-anak tidak mau ketinggalan. Mereka berdua pun ingin membela kakek tersayangnya, “Wahai Ukasyah, apakah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah. Kalau kamu mengqishash kami maka sama dengan kamu mengqishash Rasulullah.” Mendengar kata-kata cucunya tersebut Rasulullah pun berkata, “Aduhai buah hatiku, duduklah kamu berdua.”
Kemudian kepada Ukasyah Rasulullah berkata, “Wahai Ukasyah, pukullah aku kalau kamu hendak memukul.”
“Ya, Rasulullah. Engkau telah memukulku sewaktu aku tidak memakai baju.”
Maka Rasulullah pun membuka bajunya. Ketika Rasulullah membuka baju, semua yang hadir menangis karena tidak tega melihat junjungannya begitu pasrah dan ikhlah menyerahkan diri untuk dipukul.
Lain halnya dengan Ukasyah, begitu melihat Rasulullah melepaskan bajunya, ia pun berlari menubruk tubuh Rasulullah dan menciumnya dengan meneteskan air mata di pundak Rasulullah SAW sambil berkata, “Wahai junjunganku, akan kutebus jiwa engkau dengan jiwaku.
Siapakah yang sanggup memukul engkau. Aku melakukan begini karena aku ingin sekali menyentuh dan mencium badan yang jiwanya dimuliakan Allah SWT dengan badan yang hina ini, mudah-mudahan Allah akan menjagaku dari api neraka dengan jiwa sucimu! “
Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada semua orang yang hadir saat itu, “Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli surga, inilah orangnya.”
Kemudian semua para jemaah bersalaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jamaah berkata, “Wahai Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu. Engkau telah memperoleh derajat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah SAW di dalam surga.”
Kepastian Hukum
Apa makna dari peristiwa di atas ? Sebagai seorang pemimpin Rasulullah pun meminta untuk dilakukan Qishash atas segala perbuatan di dunia.
Ini menyatakan bahwa Islam mengajarkan adanya kepastian hukum.
Dalam surah al-Baqarah 179 disebutkan yang artinya; Dan Dalam Qishas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.
Hingga saat ini salah satu hukum islam yang sampai saat ini belum diterapkan di Indonesia adalah hukum qishash atau hukuman setimpal. Banyak cendekiawan muslim Indonesia yang justru meneriakkan penentangannya terhadap penerapan hukum qishash yang sedang di perjuangkan sebagian umat islam yang lain.
Khusus untuk kasus pak Harto, seharusnya proses hukum tetap dijalankan hingga adanya putusan pengadilan. Sehingga terdapat kepastian hukum meskipun nantinya ada keluar keputusan Presiden untuk memberikan amnesti jika pengadilan menyatakan bersalah. (berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: