Bank Islam pun Ada di Thailand Utara

Bagaimana kondisi kaum minoritas di negara ASEAN ? Itulah sebagian pertanyaan yang ada di benak kita terutama untuk kaum minoritas muslim di Thailand dan Myanmar.
Ternyata kondisi muslim di Thailand Utara lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi di Thailand Selatan. Buletin Jumat telah mengunjungi dua tempat tersebut dalam kesempatan yang berbeda.
Waktu Ramadhan 1428 H, Buletin Jumat mengunjungi wilayah Thailand Selatan yakni di Yala dan Pattani, dua provinsi yang terlibat konflik hingga saat ini.
Perbedaan perlakuan dan perhatian pemerintah terhadap provinsi ini terasa berbeda dengan provinsi lainnya.
Buktinya, tidak ada bandar udara (bandara) di lima provinsi Thailand Selatan di mana banyak kaum muslim melayu yang tinggal di sana. Sehingga bandara dibangun di Hat Yai, yang letaknya 150 km dari Yala.
Penjagaan ketat pun dilakukan oleh aparat keamanan. Sehingga aktivitas penduduk terasa diawasi.
Untuk pendidikan, pemerintah melakukan kontrol yang ketat. Pendirian Universitas Yala pun baru lima tahun terakhir dilakukan. Sehingga, untuk bidang lainnya sudah dipastikan hanya sebagai angan belaka. Seperti halnya adanya bank Islam yang resmi berdiri.
Namun, kondisi ini tidak dijumpai Buletin Jumat saat berada di wilayah Thailand Utara tepatnya di Chiang Rai pada saat Idul Adha 1428 H.
Tidak nampak penjagaan ketat seperti halnya dengan di Thailand Selatan. Bahkan, di kota yang penganut muslimnya adalah keturunan China ini berdiri Bank Islam. Restoran yang menyediakan makanan halal pun terpampang dan mudah untuk mendapatkannya.
‘’Untuk mencari produk halal pun tidaklah sulit,’’ jelas Ketua YLKMB Imbalo Iman Sakti.
Kondisi ini mungkin dapat dipahami karena pemerintah sudah menganggap di selatan yang muslimnya adalah kaum melayu adalah pemberontak.
Namun, jika di bagian utara kaum muslimnya adalah kaum China sehingga disebut dengan Cina atau Cinho.
Selain di daerah perkotaan, mereka tinggal di bukit-bukit di sekitaran provinsi Chiang Rai, seperti Pha Yao yang masih banyak dijumpai muslim Cina mereka eksodus ke Thailand karena alasaan komunis, keamanan dan ekonomi.
Di kampung Santisuk dalam Provinsi yang sama banyak diantara mereka yang menikah dengan penduduk asli atau suku bukit yang berasal dari Mong (mongolia) di bukit -bukit yang berhawa sejuk itu mereka tetap teguh dalam Islam.
Sementara di bukit-bukit sebelah Barat Chiang Rai banyak dihuni suku Akadisini pun terjadi perkawinan campur suku pendatang dengan suku asli.
Demikian juga dengan Dai-Dai dari Thailand Selatan yang ditempatkan di perkampungan-perkampungan di perbukitan-perbukitan itu beristrikan perempuan-perempuan suku setempat.
Meskipun tersebar di berbagai daerah, tapi mereka tetap merasa aman untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran agama dan keyakinan masing-masing.
Namun, terdapat hal yang berbeda antara Thailand Utara dan Selatan. Di antaranya adalah tingkat pengetahuan dan pemahaman beragama.
Karena masih banyak penganut Pagan atau aliran Animisme terutama untuk penduduk asli maka tingkat pengetahuan mereka terhadap Islam masih rendah. Apalagi mereka memeluk Islam karena kesadaran dan dakwah yang dijalankan.
Hal ini berbeda dengan masyarakat di Thailand Selatan yang sudah ratusan tahun dan turun menurun dalam memeluk agama Islam.
Sehingga perlu adanya dakwah yang dijalankan secara terus menerus oleh semua pihak .

Satu Tanggapan

  1. Salam, berkenaan bandara, di wilayah narathiwat dan Patani ada bandara, di mana wilayah narathiwat mempunyai bandara dan penerbangan terus ke kota bangkok melalui pesawat thai airasia. sekadar makluman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: