Berdakwah pada Penganut Animisme

“Wahai orang-orang yang beriman! Mahukah Aku tunjukkan sesuatu perniagaan yang boleh menyelamatkan kamu dari azab siksa yang tidak terperi sakitnya? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan RasulNya, serta kamu berjuang membela dan menegakkan agama Allah dengan hartabenda dan diri kamu”. As-Saff 61:10-11

Berjuang dan menegakkan agama Allah merupakan perintah yang terdapat dalam Al Quran.
Namun, terdapat pandangan yang kurang tepat terutama umat Islam tentang dakwah ini. Banyak yang beralasan menunggu pandai dulu baru berdakwah dan sebagainya. Padahal Rasulullah memerintahkan ‘’Sampaikanlah walaupun hanya satu ayat.’’ Hal ini menunjukan perintah berdakwah ada pada setiap umat Islam.
Atas dasar ini, Yayasan Lembaga Konsumen Muslim Batam (YLKMB) bersama dengan Muhammadiyah Internasional melakukan dakwah di Chiang Rai – Thailand Utara. Terletak sekitar 829 km dari Bangkok , Chiang Rai bisa ditempuh dengan penerbangan domestik yang tersedia beberapa kali dalam sehari selama 1 jam 30 menit.
Kota berhawa sejuk ini merupakan pusat Kerajaan Lanna yang pertama. Lanna sendiri memiliki arti ”Negeri yang bertabur ribuan sawah”.
Kini, wilayah kerajaan kuno itu menjelma menjadi delapan provinsi yang bertanah subur di Thailand, yaitu Chiang Rai, Chiang Mai, Phayao, Phrae, Nan, Lamphun, Lampang, dan Mae Hong Song. Bercokol pada ketinggian 580 meter di atas permukaan laut, Chiang Rai hampir selalu diselimuti kabut. Angin gunung yang bertiup tanpa jadwal, tak pernah gagal membuat tubuh menggigil. Bahkan di siang hari! ’’Kita berada di Provinsi Phayao,’’ ujar Ketua YLKMB, Imbalo Iman Sakti via hand phone.
Imbalo beserta rombongan yang dipimpin Ustad Wahab selaku Pimpinan Muhammadiyah Internasional menjelaskan Idul Adha di Chiang Rai ada dua yakni tanggal 19 dan 20 Desember 2007. ‘’Sekarang kita sedang membagi qurban berupa lima ekor kambing dan tiga ekor sapi setelah shalat Ied kepada 140 orang,’’ ujarnya sembari terdengar suara kambing.
Di salah satu provinsi yang terletak di bukit-bukit, penduduknya mencapai 200 ribu jiwa. Sedangkan yang memeluk agama Islam hanya dua ratus jiwa. Itu pun baru pada tahap bacaan dua kalimat syahadat sehingga banyak yang belum dapat menjalankan ibadah dengan benar. ‘’Ini yang terus dilakukan pembenahan,’’ paparnya.
Penduduk di sana, mayoritas berasal dari Mongolia. Makanya disebut dengan suku Mongol. Bersama dengan penduduk asli, mereka masih menganut paganisme atau animisme dan sebagian masih beragama Bhuda.
Namun, perkembangan dakwah mulai nampak. Dua masjid telah berdiri yang sebagai pendiri adalah masyarakat keturunan Pakistan dan Muhammadiyah Internasional. Satu terletak di Payao dan satu terletak di Banseng Distrik yang terletak 70 km dari Pa yao, ibu kota Provinsi.
’’Masjid yang terletak di Pa Yao disebut dengan masjid Pakistan,’’ paparnya.
Sedangkan di Bansai, merupakan rintisan dakwah yang digerakan Muhammadiyah Internasional melalui ustad Wahab dari Kulim-Kedah Malaysia sejak lima tahun yang lalu. ‘’Hasilnya, muslim pertama bernama Yakuf dari suku Mongolia di sini disebut suku Mong,’’ ujar Imbalo dalam pesan singkat via hp.
Suku Mong telah beberapa generasi menganut kepercayaan Pagan semacam animisme atau kepercayaan pada roh atau benda-benda ghaib dan sebagian memeluk agama Budha yang lebih dikenal Budhis tinggal di lembah pegunungan yang membentang sampai ke China yang lebih dikenal segitiga emas -Thailand, Laos, dan Myanmar – yang di masa lalu merupakan pusat perdagangan opium. Bahkan, sejarah mencatat bahwa Golden Triangle merupakan asal muasal dari lebih separuh peredaran ilegal heroin dunia, maupun akar dari segala tindak kriminal di Asia , Afrika, Eropa, dan Amerika. Hal ini karena di wilayah itu tumbuh berjuta-juta hektar ladang bunga opium yang cantik namun berefek mematikan.
Wilayah yang disebut-sebut sebagai Golden Triangle, kini merupakan sebuah landmark perbatasan antara Thailand, Myanmar, dan Laos yang dibelah oleh Sungai Mekong. ‘’Sebelumnya wilayah yang disebut San ti suk adalah markas komunis, di sini ada 30 kk. Selama 5 tahun masyarakat perlu belajar Islam lebih mendalam dan Muhammadiyah Internasional menempatkan Ustad Hasan asal Patani sehingga dapat berkomunikasi dengan suku Mong dengan bahasa Thai,’’ katanya.
Karena kurang paham terhadap agama hingga da yang sholat menggunakan celana pendek. ‘’Sehingga baju saya pun saya berikan,’’ ungkapnya.
Dalam suhu 17 derajat celcius Imbalo menjelaskan tidak semua penduduk di sana dalam kondisi susah. Karena ada yang memiliki traktor untuk membajak sawah
San ti suk artinya aman, damai. Dan Doi chuang artinya gajah sekitar bukit Doi Chuang. ‘’Banyak gajah di sini,’’ jelasnya.
Imbalo mengatakan ada lima orang asuh yang disekolahkan oleh aktivis Muhammadiyah atau yang lebih dikenal sunnah. Bahkan, ada yang disekolahkan di Universitas Yala dengan harapan dapat sebagai penerus untuk melakukan dakwah.
Selanjutnya, rombongan membagi qurban ke sejumlah ban atau kampung di tiga provinsi di utara dan empat provinsi di selatan. ‘’Tidak semua kampung dapat kami kunjungi karena letak geografis,’’ jelasnya
Seperti yang telah diberitakan sebelumnya 17 (tujuh belas) orang dan dua instansi yang berlokasi di Batam melakukan qurban di Chiang Rai.

2 Tanggapan

  1. Apakah tidak elegan jika judul ditulis: Berkorban (ber-Idul Adha) di Chiang Rai. Judul Berdoa Pada Penganut Animisme ini, seolah-olah animisme adalah kepercayaan sesat yang harus didakwai?

  2. http://www.geocities.com/CapitolHill/Lobby/4621/homeland.html

    ini adalah website fakta sejarah asal orang hmong, bukanya dari mongolia.

    http://www.north-by-north-east.com/articles/04_04_1.asp

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: