Berbuka Bersama di Bandara Suvarnabhumi

Rencana kunjungan kami ke Singapura, Malaysia dan Thailand adalah mengikat tali silaturahim yang selama ini agak renggang karena situasi politik di negara masing-masing, terutama Thailand Selatan yang ditetapkan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) oleh Pemerintah Thailand. 

Setelah melakukan perjalanan di Thailand Selatan, kami melanjutkan perjalanan menuju ibu kota Thailand – Bangkok dengan menggunakan pesawat domestik dari Hat Chai (baca Hat Jai, red) ke Bangkok.
Seperti yang telah ditulis sebelumnya, tujuan kami ke Bangkok adalah mengunjungi pusat kajian halal yang berada di Chulalungkorn University.
Pusat kajian yang terlengkap di dunia menurut majalah Halal di Malaysia ini dipimpin oleh Dr Winai Dahlan – cucu KH Ahmad Dahlan.
Sebelum mengunjungi pusat kajian halal, kami sempat singgah di Islamic Center di Bangkok untuk bersilaturahim dengan pengurus Islamic Center.
Selanjutnya kami menuju ke bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand untuk melanjutkan perjalanan ke Singapura. Bandara ini begitu besarnya dan luas jika dibandingkan dengan bandara Soekarno-Hatta. Langit-langit bangunannya tinggi berbentuk kubah. Sejauh mata memandang lempengan besi dan alumunium yang menjadi rangka-rangka bangunan, jelas terlihat.
Memang, Suvarnabhumi tak sekadar bandara. Ia juga menjadi tempat wisata bagi para pengunjung, baik wisman maupun wisatawan domestik. Meski berstatus bandara internasional, pemerintah Thailand tetap memberikan sentuhan tradisional di setiap sudutnya. Itu terlihat dari penempatan patung raksaksa dan ornamen-ornamen khas Thailand lainnya seperti pintu gerbang dan juga foto raja Thailand, Bhumibol Adulyadej.
Tak heran jika banyak wisman yang ingin mengabadikan dirinya di depan patung dan ornamen dalam bingkai foto. Inilah sebagian daya tarik bandara yang memiliki arti ‘tanah emas’ itu. Tak hanya menarik minat wisman, bandara ini juga membuat wisatawan domestik jatuh hati. Kala dibuka secara terbatas pada 15 September 2006, masyarakat Thailand berbondong datang, hanya untuk mengagumi dan mengabadikan bandara seluas 563 ribu meter persegi tersebut.
Bandara yang terletak di Racha Thewa, distrik Bang Phli, Provinsi Samut Prakan sekitar 25 kilometer sebelah timur Bangkok atau 45 menit dari pusat kota Bangkok itu tak luput dengan wisata belanjanya. Berbagai toko souvenir dan restoran tersebar di setiap sudut bandara.
Tak ubahnya bandara internasional lainnya, mayoritas gerainya memang merupakan toko souvenir, baik yang menjual makanan maupun oleh-oleh untuk dibawa pulang. Mulai dari gantungan kunci, patung, vas bunga, hingga pajangan unik. Yang agak aneh, tak banyak dijumpai penjaja parfum di sana.
Selain tetap mempertahankan nilai tradisional, Suvarnabhumi juga dilengkapi dengan teknologi bandara yang canggih. Seperti menara kontrol tertinggi di dunia yang mencapai 132,2 meter beserta tempat parkir terbesar yang dapat memuat ribuan mobil. Bandara ini menggantikan peran bandara Internasional Don Muang yang sudah beroperasi sejak 27 Maret 1914. Pembangunan bandara ini merupakan salah satu upaya untuk terus meningkatkan jumlah wisman ke Thailand yang hingga tahun 2006 telah mencapai lebih dari 12 juta.
Pihak bandara juga menyediakan mesin-mesin komunikasi yang ditempatkan sebelum pintu masuk dan keluar. Setiap titik biasanya terdiri dari tiga sampai empat mesin. Mesin berlayar sentuh ini bisa digunakan untuk menelepon nomor lokal, mengakses internet, dan juga bermain game. Namun, untuk menggunakannya, harus memakai koin yang dapat diperoleh dengan menukarkan Bath (mata uang Thailand).
Buka Bersama
Di salah satu sudut bandara, terdapat mushola. Sengaja kami menuju di sana untuk melaksanakan sholat Dhuhur dan Ashar sembari menunggu waktu berbuka -yang memang saat di sana pada waktu Ramadhan.
Satu persatu pengunjung mendatangi mushola tersebut.Tak disangka kami disambut baik dengan salah satu pegawai bandara setempat. Bahkan, secara bersama-sama para pengunjung yang mayoritas penumpang yang menunggu penerbangan melaksanakan buka bersama.
Saya pernah transit di bandara Soekarno-Hatta – Jakarta saat berbuka. Suasana yang saya alami sungguh berbeda dengan saat berbuka bersama di bandara Suvarnabhumi – Bangkok. Saat di Jakarta, ta’jil dibagi gratis, tapi sauasana kekeluargaan tidak terasa. (aries/republika)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: