Legalisasi Judi dengan ’’Baju’’ KWTE

 “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu men-dapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr (arak) dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Al-Ma’idah: 90-91)
Baca lebih lanjut

Iklan

LPPOM MUI : Cek Halal dengan Listing

 Awal bulan November lalu Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Muslim melakukan kunjungan di kantor LP POM MUI Pusat di Bogor. Dari kunjungan tersebut terdapat perbedaan mendasar dalam pemberian rekomendasi halal yang dilakukan Pusat Kajian Halal di Thailand. 
Baca lebih lanjut

Monopoli Seluler Rugikan Konsumen

KPPU menyatakan kepemilikan silang Temasek pada Indosat dan Telkomsel melanggar Pasal 27 UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Baca lebih lanjut

Rawat Manula di Pusat Jagaan Siang

 Rencana kunjungan kami ke Singapura, Malaysia dan Thailand adalah mengikat tali silaturahim yang selama ini agak renggang karena situasi politik di negara masing-masing, terutama Thailand Selatan yang ditetapkan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) oleh Pemerintah Thailand.

Saat tiba di bandara Changi-Singapura dari Bangkok pada malam hari sekitar pukul 09.00 malam waktu setempat, kami berkejaran menuju stasiun mass rapid transportation (MRT) menuju stasiun Kembangan yang tidak seberapa jauh dari kantor pusat Muhammadiyah Singapura. Kami berencana akan mengunjungi beberapa amal usaha Muhammadiyah Singapura sebagai berbandingan amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah Batam.
Pada pagi hari, dalam perbincangan dengan ustad Hussein, presiden Muhammadiyah Singapura, kami diberi saran untuk membuka pusat jagaan siang (semacam pusat kesehatan bagi manula, red) di Batam.
Alasannya, biaya untuk lansia di pusat jagaan siang di Singapura mencapai 800 hingga 1.000 dolar singapura atau setara dengan Rp6.000.000 (enam juta rupiah). Sedangkan jika berada di Batam, maka biaya yang dikeluarkan hanya separuhnya atau sekitar Rp2.000.000 (dua juta rupiah) hingga Rp3.000.000 (tiga juta rupiah).
Rencana ini memang bisa dikembangkan di Batam, apalagi Batam atau Muhammadiyah Batam memiliki lahan yang cukup luas. Namun permasalahan yang dihadapi adalah izin tinggal atau visa jika terdapat manula Singapura yang akan dirawat di Batam.
Dalam perbincangan tersebut, kami juga sempat menanyakan adanya kemungkinan kerja sama dalam bidang tour and travel, terutama dalam bidang pemberangkatan umrah. ”Hal ini dapat dimungkinkan, asal saja pengurusan visa dapat dilakukan di Jakarta. Sebab kedutaan besar Arab Saudi di Singapura tidak akan mau mengurus visa warga negara asing jika tidak ada permit khusus sebagai pekerja,” tuturnya.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi amal usaha Muhammadiyah, diantaranya adalah sekolah Al – Arabiyah Al-Islamiyah yang berada di Geylang. Sekolah dengan bangunan berlantai delapan ini memiliki siswa setara SD dan SMP. Di lantai paling atas, terdapat kolam renang yang dikhususkan bagi kaum muslimah.
Dengan menggunakan bus dan diantar Dr Ade Novli Elsultani, kami melanjutkan perjalanan menuju jagaan siang. Saat memasuki ruangan kami disambut dengan pengurus jagaan siang yakni Fauziah Abdullah.
Bangunan yang cukup luas dan hanya satu lantai ini dikhususkan untuk terapi para lansia terutama yang mengidap stroke.
Fauziah menjelaskan Pemerintah Singapura memperhatikan masyarakat yang telah memasuki usia lanjut. Hal ini dibuktikan dengan bantuan yang diberikan kepada lanjut usia (lansia) ini untuk melakukan perawatan secara intensif. ”Biaya yang ditanggung pemerintah sebesar 75 persen, sedangkan sisanya kami tanggung dengan mengandalkan bantuan dari para donatur,” jelasnya.
Fauziah menjelaskan, pusat jagaan siang diperuntukan untuk para manula yang disertai dengan beberapa program. Program tersebut yang telah disusun tersebut dapat dijalani para peserta diantaranya adalah pelatihan untuk penderita stroke, pelayanan kerohanian dan program makan bersama yang menunya telah diatur.
Jagaan siang ini khususnya diperuntukan bagi orang yang lanjut usia, namun anak-anaknya bekerja. Sehingga mereka tidak mempunyai waktu untuk mengurus orang tua secara optimal. Namun, tidak semua lansia ini berasal dari keluarga Melayu Singapura, Ada juga dari keluarga Tionghoa maupun India. Bahkan, yang kami jumpai adalah lansia yang merupakan keturunan Jawa. Sehingga ia dapat menggunakan bahasa Jawa walaupun sedikit.
Beberapa komentar positif pun muncul di internet mengenai jagaan siang yang dikelola Muhammadiyah ini. Mereka menyatakan dengan meletakan orang tua ke pusat jagaan siang lebih terjamin jika dibandingkan dengan mempekerjakan pembantu walaupun biayanya lebih mahal.
Sebelum pulang ke Batam, kami menyempatkan singgah di rumah kebajikan yang merupakan tempat untuk membina anak-anak yang bermasalah dengan hukum. ”Anak-anak dapat kembali ke masyarakat jika telah dinyatakan lulus,” papar pengurus rumah kebajikan Ustad Yusuf. (***)

Gunakan Sumber Energi Alternatif

Mantan menteri pertambangan dan sumber daya energi, Sugiharto mengatakan pemerintah harus melakukan diversivikasi atau memanfaatkan sumber daya energi alternatif guna mengatasi melonjaknya harga minyak dunia.
’’Indonesia telah salah manajemen dalam mengurus penggunaan sumber daya mineral dan energi,’’ ujar pria tambun ini pada diskusi publik Perminyakan Dunia dan Dampaknya Terhadap Perekonomian Nasional yang diselenggarakan Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Auditorium Ged. Pusat Dakwah Muhammadiyah Jl. Menteng Raya 62 Jakarta pada Kamis, 1 November 2007.
Sugiharto mengatakan Indonesia memiliki sumber energi alternatif yang dapat digunakan selain minyak bumi.
’’Kita memiliki sumber energi panas bumi. Mengapa itu tidak dimanfaatkan. Lagian mengapa kita membakar minyak terus menerus untuk menghasilkan energi listrik,’’ paparnya.
Selain itu, sebutnya, Indonesia juga memiliki energi arus bawah air.’’Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah,’’ ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, pengamat perminyakan Dr Kurtubi mengatakan biaya operasional yang harus ditanggung pemerintah untuk saat ini jauh lebih besar dari hasil eksplorasi minyak.
’’Selain itu, ada permasalahan yang mendasar terjadi pada BP Migas. Karena BP Migas tidak pernah melakukan eksplorasi maka mereka tidak dapat membandingkan biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh perusahaan perminyakan,’’ paparnya.
Sementara itu, anggota DPR Ir Nizar Dahlan mengatakan sesuai dengan UU Migas tahun 2001 dan filosofi ketatanegaraan maka instuisi normatif dilakukan oleh negara.
Pada kesempatan yang sama Sugiahrto juga menyoroti tentang production sharing contract yang mencapai 85 : 15 after cost bases. Artinya, bagian pemerintah akan kecil dalam produksi minyak selama ini.
Prof Dr Didik J Rachbini mengatakan pengelolaan sumber daya alam jangan sampai terjadi seperti freeport dan kasus blok cepu.
Kasus blok cepu, katanya, bukan terkait dengan kepentingan nasional yang sangat kuat, termasuk kepentingan bagi kesejahteraan rakyat.
’’Hal ini berkait dengan perusahaan besar di AS, sehingga berkait erat pula dengan kepentingan AS atas perusahaannya di bumi Indonesia,’’ ujarnya. (***)

Berbuka Bersama di Bandara Suvarnabhumi

Rencana kunjungan kami ke Singapura, Malaysia dan Thailand adalah mengikat tali silaturahim yang selama ini agak renggang karena situasi politik di negara masing-masing, terutama Thailand Selatan yang ditetapkan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) oleh Pemerintah Thailand. 

Setelah melakukan perjalanan di Thailand Selatan, kami melanjutkan perjalanan menuju ibu kota Thailand – Bangkok dengan menggunakan pesawat domestik dari Hat Chai (baca Hat Jai, red) ke Bangkok.
Seperti yang telah ditulis sebelumnya, tujuan kami ke Bangkok adalah mengunjungi pusat kajian halal yang berada di Chulalungkorn University.
Pusat kajian yang terlengkap di dunia menurut majalah Halal di Malaysia ini dipimpin oleh Dr Winai Dahlan – cucu KH Ahmad Dahlan.
Sebelum mengunjungi pusat kajian halal, kami sempat singgah di Islamic Center di Bangkok untuk bersilaturahim dengan pengurus Islamic Center.
Selanjutnya kami menuju ke bandara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand untuk melanjutkan perjalanan ke Singapura. Bandara ini begitu besarnya dan luas jika dibandingkan dengan bandara Soekarno-Hatta. Langit-langit bangunannya tinggi berbentuk kubah. Sejauh mata memandang lempengan besi dan alumunium yang menjadi rangka-rangka bangunan, jelas terlihat.
Memang, Suvarnabhumi tak sekadar bandara. Ia juga menjadi tempat wisata bagi para pengunjung, baik wisman maupun wisatawan domestik. Meski berstatus bandara internasional, pemerintah Thailand tetap memberikan sentuhan tradisional di setiap sudutnya. Itu terlihat dari penempatan patung raksaksa dan ornamen-ornamen khas Thailand lainnya seperti pintu gerbang dan juga foto raja Thailand, Bhumibol Adulyadej.
Tak heran jika banyak wisman yang ingin mengabadikan dirinya di depan patung dan ornamen dalam bingkai foto. Inilah sebagian daya tarik bandara yang memiliki arti ‘tanah emas’ itu. Tak hanya menarik minat wisman, bandara ini juga membuat wisatawan domestik jatuh hati. Kala dibuka secara terbatas pada 15 September 2006, masyarakat Thailand berbondong datang, hanya untuk mengagumi dan mengabadikan bandara seluas 563 ribu meter persegi tersebut.
Bandara yang terletak di Racha Thewa, distrik Bang Phli, Provinsi Samut Prakan sekitar 25 kilometer sebelah timur Bangkok atau 45 menit dari pusat kota Bangkok itu tak luput dengan wisata belanjanya. Berbagai toko souvenir dan restoran tersebar di setiap sudut bandara.
Tak ubahnya bandara internasional lainnya, mayoritas gerainya memang merupakan toko souvenir, baik yang menjual makanan maupun oleh-oleh untuk dibawa pulang. Mulai dari gantungan kunci, patung, vas bunga, hingga pajangan unik. Yang agak aneh, tak banyak dijumpai penjaja parfum di sana.
Selain tetap mempertahankan nilai tradisional, Suvarnabhumi juga dilengkapi dengan teknologi bandara yang canggih. Seperti menara kontrol tertinggi di dunia yang mencapai 132,2 meter beserta tempat parkir terbesar yang dapat memuat ribuan mobil. Bandara ini menggantikan peran bandara Internasional Don Muang yang sudah beroperasi sejak 27 Maret 1914. Pembangunan bandara ini merupakan salah satu upaya untuk terus meningkatkan jumlah wisman ke Thailand yang hingga tahun 2006 telah mencapai lebih dari 12 juta.
Pihak bandara juga menyediakan mesin-mesin komunikasi yang ditempatkan sebelum pintu masuk dan keluar. Setiap titik biasanya terdiri dari tiga sampai empat mesin. Mesin berlayar sentuh ini bisa digunakan untuk menelepon nomor lokal, mengakses internet, dan juga bermain game. Namun, untuk menggunakannya, harus memakai koin yang dapat diperoleh dengan menukarkan Bath (mata uang Thailand).
Buka Bersama
Di salah satu sudut bandara, terdapat mushola. Sengaja kami menuju di sana untuk melaksanakan sholat Dhuhur dan Ashar sembari menunggu waktu berbuka -yang memang saat di sana pada waktu Ramadhan.
Satu persatu pengunjung mendatangi mushola tersebut.Tak disangka kami disambut baik dengan salah satu pegawai bandara setempat. Bahkan, secara bersama-sama para pengunjung yang mayoritas penumpang yang menunggu penerbangan melaksanakan buka bersama.
Saya pernah transit di bandara Soekarno-Hatta – Jakarta saat berbuka. Suasana yang saya alami sungguh berbeda dengan saat berbuka bersama di bandara Suvarnabhumi – Bangkok. Saat di Jakarta, ta’jil dibagi gratis, tapi sauasana kekeluargaan tidak terasa. (aries/republika)