Latar Belakang Pem-’’bajak’’-an Karya Anak Bangsa

Dalam buku Mangaradja Onggang Parlindungan dalam judul Tuanku Rao, Laksamana Hang Tuah dan Laksamana Hang Lekir disebutkan di dalam sejarah Melayu selaku laksamana-laksamana Kesultanan Malaka (1383-1511), yang gagah perkasa menyerang tentara Majapahit pimpinan Gadjah Mada di laut Jawa.
Namun dari sumber Kesultanan Aru / Barumun (1299-1512), pada periode 741-767 H (=1341-1365 M) Laksamana Hang Tuah dan Laksamana Hang Lekir mengamankan kesultanan Aru / Barumun dari agresi kerajaan Majapahit. Mana kedua sumber sejarah ini yang benar? Jawabannya, di waktu pemerintahan Gadjah Mada, kesultanan Malaka belum ada. Nama Hang Tuah dan Hang Lekir juga tercatat dalam sejarah Indonesia. Di Jakarta kedua nama laksamana tersebut dijadikan nama jalan yakni Jalan Hang Tuah dan Jalan Hang Lekir.
Tulisan di atas merupakan salah satu contoh bahwa Malaysia bukan hanya mem-’’bajak’’ karya seni seperti lagu daerah Rasa Sayange dan “Indang Sungai Garinggiang dari Minangkabau – Sumatera Barat. Pem-’’bajak’’-an ini wajar terjadi karena dalam sejarahnya ratusan tahun silam banyak orang Batak maupun orang Minang yang hijrah ke Malaysia.
Batak di Malaysia
Pada abad ke 19, lebih kurang 300 hingga 600 orang Batak migrasi ke Singapura dan Pulau Pinang. Hasil daripada proses migrasi hamba Batak, berkembanglah populasi Batak di Malaysia, terutamanya di kawasan Utara Semenanjung Malaysia. Diskripsi fisikal masyarakat Batak yang gelap, berbadan tegap dan berambut keriting dapat dikesan di Utara Semenanjung sehingga kini.
Namun dari segi keagamaan dan kepercayaan, masyarakat Batak di Malaysia sudah terpisah sama sekali daripada ikatan adat dan kepercayaan masyarakat Batak di Sumatra yang masih bersifat animistik dan Javaistik. Superioriti ‘adat’ digantikan dengan ‘agama Islam’ bagi masyarakat Batak di Malaysia.
Corak hidup dan pemikiran masyarakat Batak di Malaysia, baik di Pulau Pinang, Perak, Pahang maupun Kelantan tidak lagi merefleks budaya dan adat masyarakat Batak asal dari Sumatra.
Dan ternyata banyak sekali orang Mandailing (Batak) yang pernah dan masih menduduki jabatan penting di Malaysia. Beberapa di antaranya adalah Datuk Harun Harahap yang pernah menjabat sebagai Menteri Besar, Tan Sri Muhammad Taib Nasution yang Gubernur Selangor, Tun Mohammad Hanif Nasution yang pernah menjabat sebagai Ketua Polis Diraja Malaysia (semacam Kepala Polri), dan Tun Daim Batubara yang pernah menjabat Menteri Keuangan.
Minang di Malaysia
Selain itu, hubungan dekat Negeri Sembilan dengan Sumatera Barat telah terjalin sejak ratusan tahun lalu. Ketika Pelabuhan Port Dickson mulai dikembangkan pada abad ke- 15, maka berbondong-bondonglah orang dari luar yang masuk dan mencoba peruntungan di Negeri Sembilan. Termasuk di antara mereka yang masuk melalui Port Dickson adalah para perantau dari Sumatera Barat.
“Menurut orang-orang tua kami dulu, para leluhur kami mulai masuk di kala Kerajaan Pagaruyung berjaya di Tanah Minangkabau, yakni sekitar tahun 1718,” kata Fauzi – warga negara Malaysia turunan Minang.
Berbagai data yang ada menyebutkan, Pagaruyung merupakan ibu kota Kerajaan Minangkabau zaman dulu, terletak di Provinsi Sumatera Barat bagian tengah. Dalam Perang Paderi, Pagaruyung yang semula dikuasai oleh kaum Paderi kemudian dihancurkan oleh penjajah Belanda sehingga perkembangannya merosot drastis dan kini menjadi satu kota kecil saja.
Data lain menyebutkan, dengan meninggalnya Sultan Achmad Syah, Raja Minangkabau keturunan Hindu-Jawa yang telah masuk Islam, sekitar tahun 1679, terjadilah perang perebutan kekuasaan. Perang di Pagaruyung ini terjadi antara keturunan raja Hindu-Jawa dan para pengikutnya di satu pihak dengan para penguasa di Sungai Tarab dan Batipuh di lain pihak. Perang saudara ini berakhir dengan kemenangan di pihak Sungai Tarab dan Batipuh. Pada tahun 1773, Raja Malewar dari dinasti Pagaruyung menjadi Vice-Roy Negeri Sembilan / Malaya yang pertama.
Perpindahan masyarakat Minang ke Negeri Sembilan juga dengan membawa seluruh tradisi, termasuk arsitektur rumah bagonjong (bertanduk). Ketika ada perhelatan dengan menggunakan pakaian adat, misalnya, akan ditemukan banyak wanita Seramban ataupun Negeri Sembilan menggunakan penutup kepala bagonjong seperti pakaian adat Minangkabau. Arsitektur Museum Seramban juga model rumah besar bertanduk, rumah gadang bagonjong, seperti yang banyak ditemui di Sumatera Barat.(berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: