Berdoa Bersama Turunan Raja Pattani

Rencana kunjungan kami ke Singapura, Malaysia dan Thailand adalah mengikat tali silaturahim yang selama ini agak renggang karena situasi politik di negara masing-masing, terutama Thailand Selatan yang ditetapkan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) oleh Pemerintah Thailand.  

Setelah makan malam dan menjalankan shalat tarawih di Yala, kami melanjutkan silaturahim dengan saudara sesama muslim di Yala College dan Pattani. Kami menjalankan shalat tarawih di pusat masjid Yala. Masjid ini ramai dikunjungi, kebetulan kami di sana saat sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Masjid di Yala menjalankan shalat tarawih dengan membaca Al Quran satu jus tiap malam, sehingga selama sebulan Ramadhan satu Al Quran telah terbaca. Masjid yang cukup besar ini disebut sebagi pusat jamaah tabligh – (suatu ajaran yang mengedepankan tentang fadilah dan berpusat di India).

Pagi harinya, bersama dengan Naser kami mengunjungi Yala College – Perguruan Tinggi Pertama di Thailand Selatan. Kami diterima Dr. Ahmad Umar Capakiya, Rektor College tersebut.

Kehadiran kami tentunya mengagetkan alumni Universitas Malaysia (UM) tersebut. Perbincangan dimulai dengan perkenalan dan maksud kedatangan serta mengingatkan bahwa sebelumnya pernah mengunjungi universitas tersebut saat peresmiaanya.

Yala College yang memiliki sekitar 3.000 (tiga ribu) mahasiswa ini mendapat bantuan langsung dari negara-negara timur tengah. ”Ini merupakan tempat duduk penasehat raja Arab Saudi,” ujarnya dengan bangga.

Setelah lima tahun, perkembangan perguruan tinggi ini begitu pesat, beberapa bangunan megah telah berdiri di tanah yang merupakan waqaf dari umat ini.

Perjalanan kami lanjutkan dengan mengunjungi anggota Muhammadiyah di madrasah di Yala. Madrasah ini memiliki masjid yang cukup besar. Lantainya pun terbuat dari marmer yang terkesan utuh tanpa tampak adanya potongan ataupun sambungan. Yala memiliki sumber daya alam marmer yang cukup besar. Jika di Indonesia seperti halnya di Tulungagung – Jawa Timur. Sehingga tak heran jika bangunan dan kursi untuk berwudhu terbuat dari marmer.

Dari Yala, kami menuju Pattani – salah satu dari tiga provinsi yang terkena status daerah operasi militer (DOM) kerajaan Thailand. Perjalanan melalui jalan tol. Di pinggiran jalan tol mobil yang kami tumpangi belok kiri menuju jalan yang lebih sempit. Di depan jalan masuk terdapat tumpukan pasir tentara. Rupanya, masjid Krue Se, yang menjadi tempat bersejarah ini berada di sisi jalan tol. Kami berpikir mungkin ini salah satu cara kerajaan Thailand menghilangkan situs Islam di wilayahnya.

Pada, 28 April 2004, 106 pemuda dan remaja Muslim tewas dibantai aparat militer dan polisi di Masjid Krue Se, Pattani.

Dalam peristiwa yang mirip “amok” tersebut, sebanyak 34 remaja dan pemuda yang berlindung di Masjid Krue Se, Pattani, ikut terbunuh. Masjid tua peninggalan abad ke-17 ini hancur karena aparat keamanan menembakinya sejak pukul 05.00 hingga 14.10.

Bekas dari penembakan dan penyerangan di masjd ini pun tampak. Dinding yang ada di masjid ini dibiarkan tidak diplester. Bahkan, bangunan seluas 100 meter persegi ini tidak direnovasi bagian luarnya. Hanya bagian dalamnya yang direnovasi.

Diserang lagi

28 April, 2007, sekurang-kurangnya 20 jemaah yang sedang menunaikan sholat subuh di Masjid Krue Se berhamburan menyelamatkan diri selepas sekumpulan penyerang melepaskan tembakan terhadap mereka awal pagi semalam sebagai menandakan ulang tahun tragedi serangan masjid berkenaan yang mengorbankan lebih 100 terbunuh, tiga tahun lalu.

Di Masjid Krue Se, kami bertemu dengan lelaki tua yang disebut turunan ke enam raja Pattani. Di sana, kami diajak untuk berdoa untuk keselamatan umat Islam, dunia dan akhirat. Baik yang telah syuhada maupun yang masih hidup. ”Semoga kerajaan Siam hancur.” Begitu salah satu doanya.

Saya termenung di mesjid yang compang-camping itu. Entah apa motivasi para pemuda yang dengan fanatisme menyerang pos polisi dengan senjata sederhana, jelas peristiwa tragis itu menunjukkan suatu kegagalan kebijakan.

Suatu kejadian yang menunjukkan bahwa di bawah permukaan, berbagai kekuatan sosial beredar dan saling tabrakan. (***)

3 Tanggapan

  1. Assalamualaikum Wr.Wb

    saya mendoakan semoga Allah Swt mendamaikan pertikaian antara umat islam dengan budha.
    semoga Allah menghancurkan segala yang bathil dan melindungi segala yang hak………..Amiiin yaaaa rabball a’lamiiinn

  2. patani tetap merdika….

  3. assalamualaikum…
    maaf kalo bisa tau sejarah muslim pattani dan siapa nama lelaki tua turunan ke enam raja Pattani tsb?
    utk data riset…
    makasi sebelumnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: