Makan Malam dengan Cucu Pendiri Muhammadiyah

Rencana kunjungan kami ke Singapura, Malaysia dan Thailand adalah mengikat tali silaturahim yang selama ini agak renggang karena situasi politik di negara masing-masing, terutama Thailand Selatan yang ditetapkan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) oleh Pemerintah Thailand. 

Dari Pulau Penang, kami mengunjugi Universitas Sains Malaysia (USM) di Pulau Penang. Komitmen pemerintah Malaysia terhadap pendidikan bukan hanya isapan jempol. Pulau Penang yang dicanangkan sebagai tempat pelabuhan bebas dan terbesar di Asia Tenggara memiliki Universitas yang ditujukan untuk bersaing di dunia internasional. Fasilitas dan luas tanah yang disediakan memang memadai. Namun sayang, kami tidak dapat melihat aktivitas perkulihan karena memang sedang libur puasa Ramadhan.
Dari USM ini kami naik mobil van (semacam carry, red) menuju Thailand Selatan. Perjalanan juga tidak mengalami kendala karena fasilitas jalan tol yang baik.
Sesampai di perbatasan terdapat hal yang membedakan antara di Singapura, Malaysia dan Thailand.
Pemeriksaan di perbatasan Thailand tidak seketat dibandingkan dengan Malaysia maupun Singapura. Demikian dengan ketertibannya. Jika di perbatasan Malaysia, penumpang harus turun dan melalui pos imigrasi, maka tidak ada celah bagi penumpang untuk kembali ke kendaraan tanpa melalui pemeriksaan.
Tidak demikian jika di perbatasan Thailand Selatan. Penumpang dapat tidak melalui pemeriksaan jika mau, karena mobil yang ditumpangi masih berada di belakang pos pemeriksaan. Dan setelah itu, mobil yang lewat tidak melalui pengecekan, demikian juga dengan barang yang ada di dalamnya.
Saat di perbatasan, setiap orang dimintai uang RM 1 (satu ringgit Malaysia) sebelum akhirnya dapat masuk ke wilayah Thailand Selatan.
Mobil yang kami naiki berhenti di Hat Yai (baca Ha Jai, red). Di terminal, kami dijemput Ustad Nasir – Ketua Young Acociation Mosleem Thailand (YMAT).
Kami kenal dengan Nasir saat ada acara peresmian Universitas Yala di wilayah Thailand Selatan sekitar tujuh tahun yang lalu.
Penjemputan ini sengaja dilakukan mengingat kami akan berkunjung di wilayah Thailand Selatan yang berstatus Daerah Operasi Militer (DOM). Sebelum ke Yala sekitar 100 km dari Hat Yai, kami mengunjungi pantai di Provinsi Shong Kla. Thailand memiliki 73 Provinsi. Masing-masing Provinsi mungkin hanya berpenduduk 800.000 jiwa seperti hanya di Batam. Bandingkan dengan luas dan jumlah penduduk Indonesia yang hanya memiliki 33 Provinsi.
Menjelang waktu Ashar (tidak ada perbedaan waktu antara Thailand dengan Indonesia, red) kami menuju Yala. Sepanjang perjalanan, Nasir melakukan pembicaraan melalui HP. Semula kami tidak mengetahui apa isi pembicaraan. Maklum, mereka menggunakan bahasa Siam atau Thai. Sedangkan pembicaraan yang kami lakukan dengan Nasir menggunakan bahasa Melayu.
Wilayah Thailand Selatan, yang mayoritas Muslim bisa mengggunakan bahasa Melayu meskipun tidak semuanya bisa.
Sesampai di Hotel, kami dipersilahkan untuk mandi dan berganti pakaian guna buka puasa bersama.
Sesampai di restourant yang telah dipesan sebelumnya, banyak tamu undangan yang hadir. Rata-rata mereka adalah aktivis Islam yang dinamakan ahli sunnah. Jika di Indonesia Muhammadiyah.
Satu per satu kami dikenalkan dengan undangan yang hadir, mulai dari dokter hingga guru sekolah di sana. Ada satu undangan yang ”spesial” hadir di sana. Namanya- Phaisal Dahlan – cucu KH Ahmad Dahlan pendiri Pergerakan Muhammadiyah di Indonesia. Phaisal Dahlan ternyata tidak bisa menggunakan bahasa Melayu. Ia hanya menguasai bahasa Siam dan Inggris. Maka, perbincangan sambil makan malam pun terjadi.
Yang menjadi pertanyaan di hati pertama kali adalah bagaimana keturunan KH Ahmad Dahlan dapat bermukim di Thailand.
Phaisal Dahlan adalah anak dari Irfan Dahlan. Sepulang dari belajar di Lahore – India, Irfan tidak dapat masuk ke Indonesia karena situasi politik yang tidak memungkinkan karena adanya perang dunia ke dua. Maka Irfan memutuskan untuk tinggal di Thailand dan membangun keluarga di sana yang dikarunia sepuluh anak. Dan rata-rata anak Irfan memiliki kontribusi yang positif bukan hanya di Thailand melainkan juga bagi dunia Islam. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: