Rencanakan Asuh Anak Myanmar yang Tertindas

Rencana kunjungan kami ke Singapura, Malaysia dan Thailand adalah mengikat tali silaturahim yang selama ini agak renggang karena situasi politik di negara masing-masing, terutama Thailand Selatan yang ditetapkan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) oleh Pemerintah Thailand.

Ternyata dengan menggunakan alternatif naik bus lewat Larkin – Johor – Malaysia biaya yang dikeluarkan lebih murah jika dibandingkan melalui Singapura. Seperti pada tulisan pertama jika melalui Singapura biaya yang dikeluarkan mencapai $S 250 atau sekitar Rp. 1550.000 untuk lima orang. Sedangkan jika melalui Johor Bahru biaya yang dikeluarkan hanya separuhnya yakni RM250 atau sekitar Rp625.000 untuk kami berlima atau Rp125.000 per orang.
Perjalanan yang ditempuh cukup jauh yakni memakan waktu sekitar 8 jam. Dengan perincian empat jam perjalanan ke Kuala Lumpur (KL) dan empat jam ke Kedah.
Dalam perjalanan tidak mengalami kendala berarti. Dengan infrastruktur jalan yang baik, maka perjalanan dapat dilalui dengan jalan tol dari Johor hingga Kedah. Bahkan, tol ini pun tak terputus hingga ke perbatasan Thailand Selatan.
Sampai di Kedah, kami dijemput langsung dengan Ustad Abdul Wahab – Tokoh Muhammadiyah di Penang serta Ustad Halim – Mahasiswa Doktoral di Universitas Sains Malaysia (USM). Ustad Halim merupakan orang Thailand yang dicurigai oleh Pemerintah Thailand sebagai teroris. Sehingga ia tidak dapat masuk ke Thailand. Untuk itu, alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini melanjutkan program doktoralnya di USM.
Perbincangan sambil menikmati santap malam dilakukan bersama. Perbincangan tentunya menceritakan tentang kondisi umat Islam di masing-masing negara. Selain itu, aktivitas yang dilakukannya.
Ustad Wahab yang kini tidak aktif di Muhammadiyah – Penang menceritakan tentang kegiatannya melakukan dakwah pada suku asli Malaysia – Sakai. ”Banyak dari kita yang hanya bisa berdakwah di ”sawah” orang lain yang jelas sudah kelihatan hasilnya,” tutur Ustad Wahab. Maksud dari Ustad Wahab adalah kita seharusnya keluar berdakwah di lingkungan yang belum tersentuh Islam. Bahkan, Ustad Wahab juga berencana untuk melakukan dakwah di perbatasan Myanmar di Thailand Utara yakni Chiang Rai.
Seperti diketahui kondisi di Myanmar kurang begitu menguntungkan untuk saat ini. Para pemeluk Agama Bhuda saja merasa tertekan apalagi umat Islam di sana. ”Jadi siapa yang akan menolong saudara kita ? Bukankah yang wajib menolong adalah tetangganya. Sedangkan kita merupakan negara tetangga terdekatnya ,” ujarnya.
Berkenaan dengan ini, kita telah menawarkan anak-anak Myanmar yang kurang beruntung tersebut dapat ditampung di Batam. Dengan demikian program Muhammadiyah ASEAN yang kini berubah menjadi Muhammadiyah Internasional dapat terlaksana dengan baik.Pusat Dakwah
Muhammadiyah ASEAN yang sign board-nya ada di SMA Muhammadiyah Batu Aji merupakan program dakwah yang dilakukan antar lintas negara. Mengapa dipilih di Batam, karena Batam memiliki tanah yang cukup luas dan situasi yang cukup kondusif jika dibandingkan dengan Malaysia apalagi di Thailand.
Namun, peran ini belum dilakukan secara optimal mengingat keterbatasan masing-masing pengurus. Dengan adanya anak asuh terutama dari Myanmar maka diharapkan Muhammadiyah ASEAN atau Internasional dapat hidup dengan baik.
Di Malaysia, Muhammadiyah tidak dapat berkembang dengan bebas karena kebijakan dari pemerintah. Apalagi di Thailand. Namun akhir-akhir ini ada perkembangan baik terutama dengan telah dibentuknya Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di Kuala Lumpur. Keadaan ini tidak diikuti di Thailand. Khusus di Thailand Selatan yakni di tiga provinsi, Yala- Pattani dan Narathiwat kondisinya masih berlaku Daerah Operasi Militer (DOM). (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: